,
menampilkan: hasil
Target PAD Capai 99,56 Persen
Wako Sampaikan Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyampaikan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kota Pontianak Tahun Anggaran 2025. Berdasarkan hasil pemeriksaan BPK, Pemerintah Kota Pontianak kembali memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian atau WTP. Capaian tersebut menjadi opini WTP ke-15 yang diraih Pemkot Pontianak.
“Alhamdulillah, Pemerintah Kota Pontianak kembali memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian untuk yang ke-15 kalinya,” ujarnya dalam Paripurna Rancangan Perda tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kota Pontianak Tahun Anggaran 2025 di DPRD Pontianak, Selasa (2/6/2026).
Dalam laporan tersebut, Pendapatan Daerah Kota Pontianak Tahun Anggaran 2025 ditargetkan sebesar Rp2,16 triliun. Realisasinya mencapai Rp2,15 triliun atau 99,56 persen. Sementara Belanja Daerah ditargetkan sebesar Rp2,20 triliun, dengan realisasi Rp2,06 triliun atau 93,27 persen. Edi menjelaskan, dari realisasi pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan, terdapat Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran atau SiLPA Tahun Anggaran 2025 sebesar Rp138,87 miliar.
“Secara umum, dari sisi pendapatan realisasinya berada di atas 95 persen. Kemudian terdapat SiLPA sebesar Rp138 miliar,” jelasnya.
Ia menerangkan, SiLPA tersebut antara lain disebabkan oleh adanya perpanjangan pekerjaan konstruksi pada beberapa proyek. Selain itu, SiLPA juga berasal dari penghematan anggaran serta pendapatan yang melampaui target.
“SiLPA ini disebabkan adanya perpanjangan pekerjaan konstruksi pada beberapa proyek, penghematan anggaran, serta pendapatan yang melampaui target,” ungkapnya.
Edi menambahkan, penyusunan laporan keuangan pada Satuan Kerja Perangkat Daerah dikonsolidasi oleh Badan Keuangan dan Aset Daerah Kota Pontianak menjadi Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Laporan tersebut disusun menggunakan aplikasi keuangan terintegrasi, mulai dari perencanaan, penganggaran, penatausahaan, hingga pelaporan pertanggungjawaban.
Edi berharap capaian WTP ke-15 ini tidak membuat jajaran pemerintah kota berpuas diri. Menurutnya, kualitas pengelolaan keuangan harus terus ditingkatkan agar program yang disusun bersama DPRD tidak hanya terserap secara anggaran, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Yang terpenting, program-program yang kita susun bersama DPRD tidak hanya mencapai tujuan, tetapi benar-benar bermanfaat untuk masyarakat,” pungkasnya.
Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin mengapresiasi Pemerintah Kota Pontianak yang kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian atau WTP dari Badan Pemeriksa Keuangan. Menurutnya, opini WTP menjadi salah satu indikator penting dalam pengelolaan keuangan daerah. Setelah hasil pemeriksaan BPK diterima, laporan tersebut kemudian diproses menjadi Peraturan Daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD.
“Kepada Pemerintah Kota Pontianak yang telah berturut-turut 15 kali menerima opini WTP, ini setelah hasil dari BPK langsung dijadikan perda, yaitu perda pertanggungjawaban APBD,” ujarnya.
Ia menjelaskan, angka-angka dalam laporan pertanggungjawaban APBD telah disampaikan secara jelas, termasuk realisasi yang tercapai maupun yang belum tercapai. Menurutnya, proses pembahasan di DPRD akan tetap berjalan sesuai tahapan.
“Angka-angka itu sudah jelas, ada yang tercapai, ada yang tidak, dan lain sebagainya. Setelah ini masuk perhitungan APBD Kota Pontianak,” katanya.
Satarudin menerangkan, setelah penyampaian Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD, DPRD akan melanjutkan pembahasan melalui pandangan umum fraksi. Setelah itu, agenda berikutnya adalah jawaban Wali Kota terhadap pandangan umum fraksi.
“Besok masih ada pandangan umum fraksi, setelah itu jawaban Wali Kota. Masih ada beberapa tahap lagi,” jelasnya. (prokopim)
Masa Pensiun Bukan Akhir dari Pengabdian
Jejak Pengabdian 34 Tahun Sidig Handanu sebagai Abdi Negara
PONTIANAK - Bagi Sidig Handanu, masa pensiun bukan akhir dari pengabdian. Ia memandangnya sebagai bagian dari siklus hidup yang wajar, sebuah fase alamiah yang harus dijalani dengan lapang hati. Setelah 34 tahun mengabdi sebagai aparatur sipil negara, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Pontianak itu resmi memasuki masa purna tugas per 31 Mei 2026.
“Sudah menjadi sunnahtullah bahwa manusia dibatasi oleh usia. Dalam kepegawaian negeri juga ada batas usia pensiun. Jadi ini sesuatu yang biasa dan memang harus dijalani,” ujarnya usai apel pelepasan purna tugas di lingkungan Pemerintah Kota Pontianak, Selasa (2/6/2026).
Meski demikian, Sidig menyadari bahwa masa menjelang pensiun tetap membutuhkan kesiapan. Bukan hanya kesiapan administratif, tetapi juga kesiapan batin untuk memasuki ruang pengabdian yang berbeda. Setelah puluhan tahun berada dalam ritme pemerintahan, ia berharap tetap dapat beraktivitas dan memberi manfaat di bidang lain.
“Mudah-mudahan atas doa dari kawan-kawan semua, saya bisa menjalani masa pensiun ini dengan baik dan tetap bisa beraktivitas. Kalau sebelumnya di bidang pemerintahan, mudah-mudahan ke depan masih bisa beraktivitas di sektor lain, seperti sosial maupun keagamaan,” tuturnya.
Perjalanan panjang Sidig sebagai ASN dimulai pada tahun 1992. Ia mengawali pengabdian di Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Sintang. Selama kurang lebih 20 tahun, ia bertugas di berbagai wilayah, mulai dari Nanga Serawai, Kota Baru, Nanga Mau, Nanga Sepauk, hingga Nanga Pinoh. Pengalaman bertugas di daerah terpencil menjadi salah satu fase yang paling membekas dalam ingatannya.
Di Nanga Serawai, Sidig banyak belajar tentang makna pelayanan publik secara langsung. Jauh dari pusat kota, ia berhadapan dengan masyarakat pedesaan yang memiliki kebutuhan dan tantangan berbeda. Dari sana, ia memahami bahwa pelayanan bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi juga hadir, mendengar dan memahami kondisi masyarakat.
“Ketika saya pertama bertugas di daerah yang sangat terpencil di Kabupaten Sintang, yaitu di Nanga Serawai, itu menjadi pengalaman yang sangat membekas. Di sana saya banyak belajar dari masyarakat, terutama bagaimana memberikan pelayanan kepada masyarakat di wilayah perdesaan,” kenangnya.
Pada tahun 2012, Sidig melanjutkan pengabdiannya di Kota Pontianak. Selama 14 tahun bertugas di lingkungan Pemerintah Kota Pontianak, berbagai pengalaman dan momentum penting turut mewarnai perjalanan kariernya. Namun dari sekian banyak peristiwa, masa pandemi COVID-19 menjadi salah satu tantangan paling berat sekaligus paling berkesan.
Saat itu, ia menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan. Pandemi menjadi ujian besar bagi pemerintah dan masyarakat. Situasi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya menuntut kecepatan, ketepatan, koordinasi dan ketahanan seluruh jajaran pemerintahan. Sidig menyebut pandemi sebagai peristiwa langka, wabah dunia yang datang dalam skala luar biasa.
“Karena COVID-19 ini merupakan peristiwa yang sangat langka, bahkan disebut terjadi dalam kurun seratus tahun sekali dan menjadi wabah dunia. Alhamdulillah kita bisa melewati masa sulit itu bersama-sama,” ungkapnya.
Selain menghadapi masa pandemi, Sidig juga menjadi bagian dari proses penting dalam arah pembangunan Kota Pontianak ke depan. Menjabat sebagai Kepala Bappeda pada 1 Juli 2022 (kini Bapperida), ia menjadi aktor sekaligus akselerator dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Pontianak 2025–2045 yang berjalan paralel dengan penyusunan RPJMD Kota Pontianak 2025–2029.
Bagi sebuah kota, dokumen perencanaan bukan hanya tumpukan naskah administratif. Di dalamnya tersusun arah, prioritas, visi dan peta jalan pembangunan. Tanggung jawab Sidig menjadi salah satu penanda penting di penghujung masa pengabdiannya.
Di ujung masa tugasnya, Sidig menitipkan pesan kepada ASN muda. Ada tiga petuah lama yang selalu ia pegang selama menjalani pengabdian. Pertama, ASN harus memiliki rasa ikut memiliki terhadap organisasi tempatnya bekerja. Dalam falsafah Jawa, hal itu disebut melu handarbeni.
Kedua, ASN perlu ikut menjaga dan membela organisasi dalam hal yang benar. Prinsip ini dikenal dengan istilah melu hangrungkebi. Bagi Sidig, bekerja di Pemerintah Kota Pontianak berarti menjadi bagian dari keluarga besar yang harus dijaga bersama.
Ketiga, sebelum memberi kritik atau masukan, seseorang perlu terlebih dahulu melakukan introspeksi diri. Dalam falsafah Jawa disebut mulat sarira hangrasa wani. Pesan ini, menurutnya, penting agar setiap masukan lahir dari kesadaran, keteladanan dan tanggung jawab.
“Bahwa kita harus ikut memiliki, ikut menjaga dan membela organisasi, tentu dalam hal yang benar. Kemudian kita juga wajib memberikan masukan, tetapi sebelum itu kita perlu melihat diri sendiri terlebih dahulu—apakah kita sudah mampu menjalankan hal yang kita sampaikan tersebut atau belum,” katanya.
Bagi Sidig Handanu, 34 tahun pengabdian adalah perjalanan panjang yang dipenuhi pembelajaran. Dari wilayah terpencil di Sintang hingga ruang perencanaan strategis Kota Pontianak, dari melayani masyarakat perdesaan hingga menghadapi masa pandemi, jejak pengabdiannya menjadi bagian dari cerita birokrasi yang tumbuh bersama masyarakat.
Kini, ketika masa purna tugas tiba, Sidig melangkah ke fase baru dengan tenang. Pengabdian formal boleh selesai, tetapi semangat untuk memberi manfaat tetap berlanjut. Sebab bagi seorang aparatur yang telah lama ditempa oleh pelayanan, pensiun bukanlah titik berhenti, melainkan ruang baru untuk tetap hadir dan berkontribusi.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyampaikan mereka yang purna tugas, dilepas secara resmi lewat prosesi apel. Hal ini merupakan bentuk ucapan terima kasih, kenang-kenangan dan penghormatan atas dedikasi para ASN, baik pejabat, staf maupun guru, yang telah menjalankan tugas selama bertahun-tahun.
Ia berharap para ASN yang memasuki masa pensiun senantiasa diberikan kesehatan dan kebahagiaan. Meski tidak lagi bertugas secara formal di lingkungan pemerintahan, mereka tetap menjadi bagian dari keluarga besar Kota Pontianak.
“Mudah-mudahan beliau-beliau senantiasa diberikan kesehatan, kebahagiaan, serta tetap peduli terhadap Kota Pontianak, karena bagaimanapun juga mereka merupakan bagian dari keluarga besar Kota Pontianak,” lanjutnya.
Terkait jabatan yang ditinggalkan dan saat ini masih berstatus pelaksana tugas, Wali Kota menyebut proses pengisian akan dilakukan sesuai mekanisme yang berlaku, baik melalui job fit maupun open bidding. (prokopim/kominfo)
Pemkot Pontianak Genjot Program Pembangunan di Tengah Tekanan Ekonomi
Apel Peringatan Harlah Pancasila
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengajak seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila melalui peningkatan kualitas pelayanan publik, kepedulian terhadap masyarakat, serta percepatan pelaksanaan program pembangunan.
Menurut Edi, Pancasila menjadi landasan yang menjaga persatuan bangsa hingga saat ini. Karena itu, ASN harus mampu menjiwai dan mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
"Kita harus bisa menjiwai makna dari Pancasila yang setiap kegiatan upacara kita bacakan. Pancasila yang membuat negara kita sampai saat ini masih bertahan dan bersatu," ujarnya usai memimpin apel peringatan Hari Lahir Pancasila di halaman Kantor Wali Kota Pontianak, Selasa (2/6/2026).
Ia mengingatkan bahwa berbagai tantangan global saat ini, mulai dari kenaikan harga bahan bakar minyak, meningkatnya harga kebutuhan pokok, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, hingga keterbatasan sumber daya dan anggaran, turut memengaruhi percepatan pembangunan daerah.
"Ini juga membatasi gerak kita dalam percepatan untuk mencapai visi dan misi yang sudah kita sepakati dalam RPJMD," katanya.
Menurut Edi, waktu dan anggaran yang terbatas harus dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di tengah tekanan ekonomi yang berdampak pada berbagai persoalan sosial, seperti kemiskinan dan kriminalitas, ASN dituntut semakin peka terhadap kebutuhan warga.
"Manfaatkan waktu yang sangat terbatas dan anggaran yang juga sangat terbatas ini untuk seluas-luasnya kesejahteraan masyarakat Kota Pontianak," pesannya.
Selain itu, Edi menekankan pentingnya menjaga keberagaman yang menjadi karakter Kota Pontianak. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat terus memelihara toleransi, harmonisasi, dan komunikasi antaretnis, agama, maupun budaya sebagai modal utama menjaga persatuan.
"Keberagaman merupakan kenyataan yang harus kita jaga toleransinya, harmonisasinya, dan komunikasinya," ucapnya.
Pada kesempatan yang sama, Pemkot Pontianak juga memberikan penghargaan kepada ASN yang memasuki masa purna tugas sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusi mereka dalam pembangunan serta pelayanan kepada masyarakat Kota Pontianak. (kominfo/prokopim)
Pancasila Perekat Keberagaman
PONTIANAK – Peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh setiap 1 Juni menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen kebangsaan, persatuan, dan semangat hidup berdampingan dalam keberagaman.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2026 yang mengangkat tema ‘Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia’, dinilai sangat relevan dengan kondisi bangsa saat ini sekaligus menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga persatuan.
“Pancasila adalah dasar negara sekaligus pemersatu bangsa. Di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa yang kita miliki, Pancasila menjadi kekuatan yang merekatkan seluruh anak bangsa dalam semangat persaudaraan dan kebersamaan,” ujarnya, Senin (1/6/2026).
Menurut Edi, Kota Pontianak sebagai kota yang dihuni masyarakat multietnis menjadi contoh nyata bagaimana nilai-nilai Pancasila hidup dalam keseharian masyarakat.
“Keharmonisan yang selama ini terjaga menjadi modal penting dalam pembangunan daerah sekaligus menciptakan kehidupan sosial yang damai dan saling menghormati,” imbuhnya.
Ia menuturkan bahwa semangat gotong royong, toleransi, dan saling menghargai yang terkandung dalam Pancasila harus terus ditanamkan, terutama kepada generasi muda. Dengan demikian, nilai-nilai kebangsaan tidak hanya menjadi simbol, tetapi benar-benar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Peringatan Hari Lahir Pancasila bukan sekadar seremonial tahunan, tetapi momentum refleksi bagi kita semua untuk terus mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” katanya.
Edi juga mengajak seluruh masyarakat Kota Pontianak untuk menjaga kerukunan, memperkuat rasa persaudaraan, serta bersama-sama membangun kota yang maju, harmonis, dan berkelanjutan.
“Melalui momentum Hari Lahir Pancasila ini, mari kita teguhkan komitmen menjaga persatuan dan kebhinekaan. Dari Pontianak, kita tunjukkan bahwa keberagaman adalah kekuatan untuk terus melangkah bersama membangun Indonesia yang damai dan sejahtera,” tutupnya. (prokopim)