,
menampilkan: hasil
Sekda Ajak Mahasiswa UNTAN dan UNIMAS Bertukar Ilmu untuk Kemajuan Kota
PONTIANAK – Sekretaris Daerah Kota Pontianak Amirullah mengajak mahasiswa Universitas Tanjungpura (UNTAN) dan Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS) memanfaatkan program Inbound Mobility sebagai ruang bertukar ilmu, pengalaman, dan gagasan yang dapat memberikan manfaat bagi pembangunan Kota Pontianak. Hal itu disampaikannya saat ramah tamah dan makan malam bersama delegasi Faculty of Economics and Business UNIMAS di Aula Sultan Syarif Abdurrahman, Kantor Wali Kota Pontianak, Minggu (27/9/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Inbound Mobility Program yang diikuti mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNIMAS bersama mahasiswa FEB UNTAN. Dalam agenda kunjungan tersebut, delegasi UNIMAS berada di Pontianak pada 27 September hingga 3 Oktober 2026.
Amirullah mengatakan, kunjungan akademik semacam ini tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi perlu menghasilkan pertukaran pengetahuan yang dapat digunakan untuk melihat berbagai persoalan dan peluang pembangunan.
“Kita saling bertukar pengalaman, saling bertukar informasi. Jangan hanya sekadar makan malam, tetapi harus ada ilmu yang kita peroleh dari kunjungan kawan-kawan dari Malaysia ini,” ujarnya.
Menurutnya, pengalaman mahasiswa dan akademisi UNIMAS dalam melihat pengelolaan kota maupun daerah di Malaysia dapat menjadi bahan pembelajaran. Begitu pula sebaliknya, pengalaman Pontianak dan Kalimantan Barat dapat menjadi pengetahuan bagi para tamu dari Sarawak.
“Belajar juga dari kawan-kawan kita di UNIMAS bagaimana mengelola negeri, mengelola kota. Dari sini kita bisa saling mengambil hal-hal yang baik untuk kemajuan Kota Pontianak,” katanya.
Amirullah secara khusus menyampaikan pesan kepada mahasiswa UNTAN, terutama yang berasal dari Kota Pontianak, agar ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan dapat dikembalikan untuk membangun daerah.
“Pesan Pak Wali Kota, terutama adik-adik mahasiswa yang berasal dari Kota Pontianak, bangun kotanya, buat kotanya semakin maju melalui ilmu yang adik-adik miliki,” ujarnya.
Ia menilai mahasiswa memiliki posisi penting sebagai generasi yang nantinya turut menentukan arah pembangunan daerah. Karena itu, kesempatan bertemu dengan mahasiswa dari negara lain perlu dimanfaatkan untuk memperluas cara pandang sekaligus membangun jejaring.
“Pertemuan seperti ini harus memberikan sesuatu yang bisa dibawa pulang. Bukan hanya pengalaman berkunjung, tetapi wawasan dan ide baru yang nantinya bisa dikembangkan,” kata Amirullah.
Ia juga berharap hubungan akademik antara UNTAN dan UNIMAS semakin kuat. Kedekatan geografis Kalimantan Barat dan Sarawak, menurutnya, membuka banyak peluang kerja sama dalam bidang pendidikan, ekonomi, budaya, maupun pengembangan sumber daya manusia.
Dalam kesempatan itu, Amirullah turut menyampaikan selamat datang kepada seluruh mahasiswa dan dosen UNIMAS yang mengikuti rangkaian kegiatan di Pontianak.
“Selamat menikmati Kota Pontianak. Enjoy your meals, enjoy your experience during your visit in Pontianak City. Mudah-mudahan kunjungan ini memberikan kesan yang baik dan pengalaman yang bermanfaat,” pungkasnya. (prokopim)
Per 28 September, Sekolah di Pontianak Kembali Bisa Tatap Muka
PONTIANAK – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak menetapkan satuan pendidikan jenjang SD, SMP, dan kesetaraan negeri maupun swasta dapat kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka mulai Senin, 28 September 2026. Pelaksanaan pembelajaran tetap harus menyesuaikan kondisi kualitas udara dan mengutamakan kesehatan serta keselamatan warga sekolah.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak Hermawan Eko Wibowo mengatakan, kebijakan tersebut merupakan penyesuaian dari pelaksanaan pembelajaran sebelumnya selama status siaga darurat kabut asap.
“Mulai 28 September, satuan pendidikan dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka. Namun moda pembelajaran tetap harus menyesuaikan kondisi kualitas udara, nilai ISPU, tingkat risiko kesehatan, serta kesiapan masing-masing sekolah,” ujarnya Minggu (27/9/2026).
Berdasarkan edaran Disdikbud Pontianak Nomor B/400.7.15.5/1166/DISDIKBUD/2026, sekolah wajib memantau perkembangan kualitas udara dan nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dari sumber resmi sedikitnya dua kali sehari, yakni sebelum pembelajaran dimulai dan pada pertengahan hari. Hasil pemantauan juga harus dicatat sebagai dasar dalam menentukan langkah perlindungan bagi warga sekolah.
Dalam pelaksanaan tatap muka, aktivitas siswa di luar ruangan harus dibatasi. Sekolah juga diminta memastikan ruang belajar memiliki kondisi udara yang aman dan nyaman, menyediakan masker bagi yang membutuhkan, serta menerapkan penggunaan masker sesuai kondisi kualitas udara. Orang tua juga diimbau membekali anak dengan air minum.
Hermawan menambahkan, perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan. Di antaranya siswa SD kelas I hingga III, peserta didik penyandang disabilitas, siswa yang memiliki penyakit penyerta, serta warga sekolah lainnya yang berdasarkan kondisi kesehatan memerlukan perlindungan khusus.
“Untuk kelompok rentan, pembelajaran jarak jauh tetap dapat dilakukan apabila kualitas udara tidak memungkinkan pelaksanaan tatap muka secara aman. PJJ bukan berarti libur, hak belajar peserta didik tetap harus terpenuhi,” katanya.
Apabila kualitas udara kembali menurun secara signifikan, kepala sekolah diberikan kewenangan untuk menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran. Penyesuaian tersebut dapat berupa penghentian sementara aktivitas luar ruangan, memulangkan siswa lebih awal, maupun mengalihkan pembelajaran ke moda yang lebih aman. Kondisi itu selanjutnya harus dilaporkan kepada Disdikbud Kota Pontianak.
Hermawan menegaskan, sekolah juga wajib mendokumentasikan hasil pemantauan ISPU, moda pembelajaran yang digunakan, kondisi kesehatan warga sekolah, serta langkah perlindungan yang telah dilakukan.
Selain itu, kalender pendidikan tahun pelajaran 2026/2027 dapat disesuaikan sebagai dampak perubahan pola pembelajaran akibat kondisi kualitas udara. Penyesuaian tetap harus memperhatikan pemenuhan hari belajar efektif dan beban belajar peserta didik.
“Prinsipnya, pembelajaran tetap berjalan, tetapi kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan menjadi prioritas utama,” pungkasnya. (prokopim)
Rumah Sakit Berkualitas Perkuat Layanan Kesehatan Kota
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menilai keberadaan rumah sakit dengan layanan spesialis, peralatan modern, dan tenaga medis berpengalaman semakin memperkuat kualitas pelayanan kesehatan di Kota Pontianak. Menurutnya, sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Barat sekaligus kota jasa dan perdagangan, Pontianak memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat pelayanan kesehatan, tidak hanya bagi warga kota, tetapi juga masyarakat dari berbagai daerah di Kalimantan Barat.
“Alhamdulillah, dengan banyaknya rumah sakit di Pontianak, apalagi yang memiliki layanan spesialis, peralatan yang canggih dan modern, serta didukung dokter-dokter spesialis yang berpengalaman, ini sangat membantu kualitas kesehatan masyarakat,” ujarnya saat menghadiri peresmian RS Mata Ayani, Sabtu (26/9/2026).
Edi berharap peningkatan fasilitas kesehatan di Pontianak dapat mengurangi ketergantungan masyarakat untuk berobat ke luar daerah maupun ke negara tetangga. Bahkan, bukan tidak mungkin depan arus pelayanan kesehatan dapat berbalik dengan menjadikan Pontianak sebagai salah satu tujuan berobat.
“Kalau selama ini warga ke Kuching untuk berobat, ke depan kita berharap justru sebaliknya. Pontianak juga bisa menjadi tujuan pelayanan kesehatan,” katanya.
Menurutnya, hal tersebut membutuhkan fasilitas kesehatan yang memadai, tenaga medis kompeten, teknologi yang terus berkembang, serta pelayanan yang mampu membangun kepercayaan masyarakat.
Sementara itu, pemilik RS Mata Ayani Mohamad Subuh mengatakan, pengembangan rumah sakit tidak hanya ditujukan untuk menambah fasilitas pelayanan, tetapi juga memastikan seluruh kegiatan memenuhi ketentuan dan menempatkan keselamatan pasien sebagai prioritas. Subuh menjelaskan, pembangunan RS Mata Ayani dimulai sejak 2023. Pada tahap pertama, bangunan yang diresmikan memiliki luas lantai kurang lebih 2.000 meter persegi.
Seiring perkembangan regulasi, rumah sakit yang memiliki kekuatan utama pada pelayanan mata juga menyiapkan layanan lain. Di antaranya penyakit dalam, THT, anestesi, radiologi, dan pelayanan penunjang lainnya.
“Pelayanan mata tetap menjadi kekuatan kami, tetapi sesuai perkembangan aturan, rumah sakit juga harus membuka dan menyiapkan pelayanan-pelayanan lain,” katanya.
Ia mengatakan, visi RS Mata Ayani adalah memberikan pelayanan kesehatan mata bagi masyarakat Kalimantan Barat, khususnya Pontianak dan sekitarnya, dengan standar nasional. Untuk mencapai hal tersebut, rumah sakit berupaya melengkapi fasilitas diagnostik, tindakan, dan layanan pendukung. Selain layanan kuratif, RS Mata Ayani juga akan memperkuat pendekatan promotif dan preventif. Salah satunya melalui pemeriksaan dan penjaringan mata juling pada anak serta pemeriksaan kesehatan mata bagi peserta prolanis, terutama penderita diabetes dan hipertensi.
“Diabetes dan hipertensi juga memiliki pengaruh terhadap kesehatan mata. Karena itu, kita ingin pelayanan tidak hanya berorientasi pada pengobatan, tetapi juga pencegahan,” katanya.
Pihak rumah sakit juga merencanakan bakti sosial operasi katarak pada Desember 2026. Selain itu, fasilitas RS Mata Ayani diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai wahana pendidikan dokter, khususnya untuk menunjang pembelajaran bidang kesehatan mata.
Subuh berharap keberadaan RS Mata Ayani dapat menambah pilihan layanan kesehatan berkualitas bagi masyarakat sekaligus mendukung upaya menjadikan Pontianak sebagai pusat pelayanan kesehatan di Kalimantan Barat.
“Mudah-mudahan rumah sakit ini memberi manfaat semakin besar bagi masyarakat, baik untuk pelayanan, pencegahan, maupun pendidikan,” pungkasnya. (prokopim)
Pontianak Biennale 2026 Ruang Pertemuan Seniman Dunia
Wali Kota Dorong Seni Perkuat Identitas Kota
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengapresiasi penyelenggaraan Pontianak Biennale 2026 yang mempertemukan seniman lokal, nasional, hingga mancanegara. Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa ekosistem seni di Pontianak mampu terhubung dengan jejaring yang lebih luas sekaligus menghadirkan gagasan-gagasan penting tentang alam, kota, dan kehidupan masyarakat.
“Ini bentuk sinergi seniman yang tidak hanya dari Pontianak dan Kalimantan Barat, tetapi juga dari Pulau Jawa bahkan mancanegara, seperti Singapura, Kroasia, Malaysia, dan Brunei,” ujarnya saat menghadiri pembukaan Pontianak Biennale 2026 di Port 99, Jumat (25/9/2026) malam.
Pontianak Biennale 2026 mengusung tema “Arus Pertemuan dan Gelombang” dan untuk pertama kalinya digelar secara urundaya dan swakelola dengan melibatkan berbagai institusi, lembaga, organisasi, kolektif, komunitas, serta individu. Biennale dirancang sebagai ruang pertemuan gagasan dan praktik artistik sekaligus memperkuat jejaring pelaku seni dari tingkat lokal hingga global.
Edi menilai, karya-karya yang ditampilkan terasa relevan dengan kondisi Pontianak dan Kalimantan Barat saat ini, terutama terkait lingkungan, sungai, dan kebakaran lahan.
“Di tengah kondisi bencana asap, kita tidak berhenti berkreasi dan berinovasi. Para seniman juga menyampaikan perasaannya terhadap alam. Banyak karya berbicara tentang sungai, kebakaran lahan, dan bagaimana kita perlu menjaga keseimbangan hidup,” katanya.
Menurutnya, seni memiliki kemampuan menyampaikan pesan yang panjang melalui visual, bunyi, instalasi, maupun karya tiga dimensi. Ia menilai sejumlah karya yang menggambarkan suara alam, Sungai Kapuas sebagai nadi kehidupan, hingga hubungan masyarakat dengan hutan memberi pengalaman yang kuat bagi pengunjung.
“Semua tampilannya, baik video visual, sculpture maupun lukisan, menggambarkan sesuatu yang menginspirasi. Ini bukan sesuatu yang biasa kita lihat di ruang umum,” ujarnya.
Pontianak Biennale tahun ini menghadirkan 41 seniman lokal, nasional, dan internasional. Sebanyak 22 di antaranya merepresentasikan Pontianak, Kalimantan dan Borneo, empat berasal dari luar Kalimantan, sementara 12 seniman internasional berasal dari berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Hong Kong, Inggris, India, Belanda, Kroasia, San Marino, Jepang, Vietnam dan Thailand.
Ia berharap Pontianak Biennale dapat terus berkembang sebagai agenda berkala dengan ruang penyelenggaraan yang lebih luas. Tidak hanya di Port 99, kegiatan seni ke depan juga dapat menyentuh taman kota, ruang publik, hingga kawasan terbuka.
Edi juga mengaitkan peran seniman dengan rencana Pemkot Pontianak merehabilitasi SD Negeri 14 yang merupakan bangunan cagar budaya untuk dikembangkan menjadi museum. Menurutnya, keterlibatan seniman dapat membantu menghadirkan museum yang mampu menceritakan perjalanan Pontianak secara menarik.
“Tahun depan kita akan merehab SD 14 yang merupakan cagar budaya Kota Pontianak dan akan kita jadikan museum. Nanti kita ingin bekerja sama dengan teman-teman seniman untuk membantu mempresentasikan museum itu sehingga bisa bercerita tentang kondisi Kota Pontianak sejak awal hingga hari ini,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan Pontianak Biennale 2026 Gusti Enda mengatakan, tema “Arus Pertemuan dan Gelombang” dipilih untuk merepresentasikan posisi Pontianak dan Kalimantan Barat sebagai titik temu berbagai arus peradaban, budaya, migrasi, dan niaga. Sungai ditempatkan sebagai metafora yang sejak lama menjadi jalur pertemuan manusia, kebudayaan, pengetahuan dan peradaban.
Penyelenggaraan berlangsung selama satu bulan, 25 September hingga 25 Oktober 2026, dengan pameran dan berbagai program publik. Selain Port 99, aktivitas juga tersebar di Pasar Tradisional Purnama, SD Negeri 14, Tempias Kopi Banjar Serasan, ruang konferensi, hingga ruang komunal lainnya. Rangkaian program tidak hanya berupa pameran seni rupa kontemporer, tetapi juga konferensi dan forum, Dapok Warge, Beranda Sinema, tur budaya dan sejarah “Pontianak Punye Cerite”, Bukumpul Library, hingga Kids Corner.
“Kami ingin Pontianak Biennale menjadi ruang yang terus tumbuh, membuka dialog, dan mempertemukan banyak pihak. Dari pertemuan-pertemuan itu, mudah-mudahan muncul gelombang baru bagi perkembangan seni dan kebudayaan di Pontianak,” pungkasnya. (prokopim)