,
menampilkan: hasil
Kunjungi TK Adhyaksa XI, Bunda PAUD Dorong Pendidikan Ramah Anak
PONTIANAK – Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kota Pontianak Yanieta Arbiastutie Kamtono melakukan kunjungan ke Taman Kanak-kanak (TK) Adhyaksa XI. Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kota Pontianak untuk memastikan layanan pendidikan anak usia dini berjalan dengan baik dan berkualitas.
“Pendidikan anak usia dini merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. Karena itu, kami terus mendorong seluruh satuan PAUD, termasuk TK Adhyaksa XI, agar memberikan layanan pendidikan yang aman, menyenangkan, dan ramah anak,” ujarnya usai melakukan kunjungan ke TK Adhyaksa XI, Kamis (15/1/2026).
Ia juga mengapresiasi peran Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD) Daerah Pontianak dan para tenaga pendidik yang telah berkontribusi aktif dalam mendukung penyelenggaraan PAUD di Kota Pontianak.
“Kami melihat TK Adhyaksa XI memiliki komitmen yang baik dalam pengembangan karakter dan kreativitas anak. Sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan orang tua harus terus diperkuat agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak, dan berdaya saing,” katanya.
Menurut Yanieta, Pemerintah Kota Pontianak akan terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini melalui pembinaan, pendampingan, serta penguatan kolaborasi lintas sektor.
“Kami berharap kunjungan ini dapat menjadi motivasi bagi para pendidik dan peserta didik, sekaligus mempererat kerja sama antara Pemerintah Kota Pontianak dan Kejaksaan Negeri Pontianak dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia sejak usia dini,” harapnya.
Ketua IAD Daerah Pontianak, Atik Eko Purnomo, mengapresiasi kunjungan Bunda PAUD Kota Pontianak ke TK Adhyaksa XI. Kunjungan tersebut dinilai menjadi bentuk nyata perhatian Pemerintah Kota Pontianak terhadap penguatan pendidikan anak usia dini.
“Atas nama Ikatan Adhyaksa Dharmakarini Daerah Pontianak, kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ibu Wali Kota selaku Bunda PAUD beserta rombongan atas perhatian dan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan anak usia dini,” ucapnya.
Ia menjelaskan, TK Adhyaksa XI merupakan salah satu wujud komitmen Kejaksaan Republik Indonesia dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia sejak usia dini. TK tersebut berdiri sejak tahun 1975 dan saat ini telah terakreditasi A dengan jumlah peserta didik sebanyak 52 anak.
“TK Adhyaksa XI juga dilengkapi dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler, seperti menari, TPA, angklung, dan marching band, sebagai sarana pengembangan bakat dan karakter anak,” jelasnya.
Menurut Atik, pendidikan anak usia dini memiliki peran penting sebagai fondasi utama dalam membentuk kepribadian dan karakter generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, sinergi antara Kejaksaan, Pemerintah Daerah, tenaga pendidik, serta para orang tua sangat diperlukan agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara optimal.
“Kunjungan Ibu Wali Kota selaku Bunda PAUD menjadi motivasi dan penyemangat tersendiri bagi para guru dan anak-anak TK Adhyaksa. Ini menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Pontianak memberikan perhatian besar terhadap pembinaan generasi muda sejak usia dini,” pungkasnya. (*)
Pontianak Hitung Kerugian Akibat Banjir
PONTIANAK – Pemerintah Kota Pontianak mulai melakukan langkah strategis berbasis data dengan menghitung kerugian dan kerusakan akibat banjir melalui kajian aktuaria. Kajian ini menjadi penting mengingat karakter geografis Kota Pontianak yang berada di wilayah dataran rendah dan sangat dipengaruhi pasang surut Sungai Kapuas serta air laut.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menyebutkan, pada Januari 2026 Pontianak menghadapi dua kali pasang tertinggi, bahkan berdasarkan rilis BMKG, ketinggian air mencapai hingga dua meter di atas permukaan rata-rata.
“Beberapa kawasan terdampak cukup serius. Air tidak hanya menggenangi badan jalan, tetapi masuk ke rumah warga. Ini tentu menimbulkan kerusakan material, mengganggu aktivitas warga, bahkan menyebabkan sebagian masyarakat harus mengungsi,” ujarnya ketika membuka Kick Off Kajian Perhitungan Aktuaria untuk Kerugian dan Kerusakan Finansial Akibat Banjir di Kota Pontianak di Hotel Mercure, Kamis (15/1/2026).
Kajian ini didanai program Fincapes dari Universitas Waterloo Kanada. Dalam kajiannya bekerja sama dengan Universitas Gajahmada. Edi menjelaskan bahwa banjir dan pasang rob yang terjadi secara rutin setiap tahun berdampak langsung pada infrastruktur jalan, bangunan, serta rumah tinggal masyarakat, terutama di kawasan bantaran Sungai Kapuas. Oleh karena itu, kajian aktuaria ini diharapkan mampu memetakan besaran kerugian secara komprehensif sekaligus menjadi dasar perumusan kebijakan mitigasi yang lebih tepat sasaran.
Menurutnya, Pemerintah Kota Pontianak selama ini telah melakukan berbagai langkah mitigasi jangka pendek, seperti meninggikan ruas-ruas jalan, memperlebar dan menjaga fungsi parit primer, sekunder, dan tersier, melakukan pembersihan saluran secara rutin, serta menerapkan sistem pompanisasi untuk mempercepat aliran air ke Sungai Kapuas. Namun, kondisi topografi Pontianak yang datar membuat aliran air sangat bergantung pada tinggi muka air sungai.
“Perubahan iklim, kenaikan muka air laut, kerusakan daerah hulu, sedimentasi sungai, hingga pesatnya pembangunan di wilayah sekitar seperti Kubu Raya dan Mempawah juga memberi dampak terhadap pola aliran air ke Pontianak. Ini tidak bisa ditangani kota sendiri, perlu kolaborasi lintas sektor,” tegasnya.
Edi menambahkan, hasil kajian aktuaria diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah kota, pemerintah provinsi, hingga kementerian terkait, khususnya dalam perencanaan jangka panjang penanganan banjir, termasuk opsi infrastruktur berskala besar. Di sisi lain, ia juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan tidak mempersempit saluran drainase.
“Harapan kita, kajian ini menghasilkan rekomendasi yang aplikatif dan realistis untuk mengurangi risiko dan kerugian akibat banjir di Kota Pontianak ke depan,” pungkasnya.
Perwakilan Universitas Waterloo, Prof. Stefan Steiner menjelaskan bahwa studi tersebut mengombinasikan pendekatan aktuaria dengan pengumpulan data primer dan sekunder. Metode yang digunakan meliputi survei lapangan, diskusi kelompok terarah (focus group discussions), serta konsultasi intensif dengan para pemangku kepentingan di tingkat lokal.
“Pendekatan aktuaria memungkinkan kami menghitung risiko dan kerugian banjir secara lebih terukur, tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga dampak sosial dan ekonomi yang dirasakan masyarakat,” ujar Prof. Steiner.
Menurutnya, integrasi antara pemodelan ilmiah dan realitas sosial menjadi kunci dalam menghadirkan rekomendasi kebijakan yang relevan dan aplikatif.
Ia menambahkan, kegiatan ini merupakan kelanjutan dari riset bahaya banjir dan upaya pelibatan masyarakat yang sebelumnya telah dilakukan FINCAPES dan akan berlangsung hingga sembilan bulan ke depan.
Melalui studi lanjutan ini, hubungan antara pemodelan ilmiah, dampak sosial-ekonomi, dan proses pengambilan keputusan publik akan semakin diperkuat.
“Tujuan utama kami adalah menjembatani sains dengan kebijakan. Dengan memahami besaran risiko finansial secara komprehensif, pemerintah daerah dapat merancang strategi mitigasi dan pembiayaan iklim yang lebih efektif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Prof. Steiner menilai Pontianak sebagai contoh penting bagi kota-kota dataran rendah di kawasan pesisir dan sungai yang menghadapi ancaman serupa akibat perubahan iklim. Hasil kajian ini diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi Pontianak, tetapi juga dapat direplikasi di wilayah lain yang memiliki karakteristik risiko banjir yang sejenis. (prokopim)
1.504 Calon Jemaah Haji Pontianak Jalani Pemeriksaan Kesehatan
Lolos Syarat Kesehatan Sebelum Pelunasan Biaya Haji
PONTIANAK – Sebanyak 1.504 calon jemaah haji asal Kota Pontianak menjalani rangkaian pemeriksaan kesehatan sebagai syarat penetapan istitha’ah pada musim haji tahun ini. Pemeriksaan dilakukan secara bertahap mulai dari pemeriksaan kesehatan tingkat pertama hingga tes kebugaran jasmani.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Saptiko menjelaskan, seluruh calon jemaah haji yang telah memiliki porsi, baik yang masuk kuota keberangkatan maupun cadangan, wajib mengikuti pemeriksaan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan yang telah ditentukan.
“Pemeriksaan kesehatan haji dimulai dari pemeriksaan tingkat pertama di puskesmas. Setelah itu dilanjutkan dengan Medical Check Up (MCU) di rumah sakit,” ujarnya usai meninjau proses pemeriksaan kesehatan pada calon jamaah haji di Asrama Haji Pontianak, Kamis (15/1/2026).
Dari hasil pemeriksaan tersebut, kata Saptiko, dilakukan evaluasi untuk menentukan apakah calon jemaah haji langsung dinyatakan istitha’ah atau masih memerlukan penanganan medis lanjutan. Bagi jemaah yang memiliki penyakit tertentu namun masih dapat diperbaiki, akan dirujuk ke rumah sakit atau dokter spesialis.
“Setelah dilakukan pengobatan dan kondisinya membaik, jemaah akan menjalani pemeriksaan ulang untuk penetapan istitha’ah,” jelasnya.
Ia menambahkan, status istitha’ah kesehatan selanjutnya akan diinput ke dalam Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kesehatan yang terintegrasi langsung dengan sistem perbankan. Dengan demikian, pelunasan biaya haji hanya dapat dilakukan apabila calon jemaah telah dinyatakan memenuhi syarat kesehatan.
Menurut Saptiko, pemeriksaan kesehatan tahun ini dilakukan lebih ketat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selain pemeriksaan fisik, jemaah juga menjalani pemeriksaan kognitif, daya ingat, serta tingkat kemandirian.
“Jemaah haji diharapkan benar-benar mampu mengurus dirinya sendiri selama menjalankan ibadah. Gangguan yang mempengaruhi kognitif, daya ingat, maupun kesehatan jiwa menjadi perhatian serius,” katanya.
Ia menyebutkan, jumlah calon jemaah haji Kota Pontianak tahun ini meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut merupakan dampak dari kebijakan pemerintah pusat dalam upaya memangkas masa tunggu keberangkatan haji.
Selain pemeriksaan medis, Dinas Kesehatan Kota Pontianak juga melaksanakan tes kebugaran jasmani bagi calon jemaah haji. Tes ini bertujuan untuk mengetahui kesiapan fisik jemaah dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji yang didominasi aktivitas fisik.
“Melalui tes kebugaran ini, jemaah diharapkan dapat mengetahui kondisi fisiknya. Masih ada waktu sekitar tiga bulan untuk meningkatkan kebugaran melalui olahraga rutin, pola makan bergizi, dan istirahat yang cukup,” ungkap Saptiko.
Ia juga mengimbau agar calon jemaah haji menjaga kondisi kesehatannya hingga waktu keberangkatan, serta tidak memaksakan aktivitas yang berlebihan. Khusus bagi jemaah perempuan usia subur, diharapkan menjaga agar tidak terjadi kehamilan menjelang keberangkatan, karena dapat menjadi alasan penundaan ibadah haji.
Pelaksanaan tes kebugaran jasmani dijadwalkan berlangsung selama delapan hari, mulai 14 hingga 27 Januari 2026, menyesuaikan dengan jumlah calon jemaah haji yang mencapai 1.504 orang. (Sumber: dinkes.pontianak)
Lenggak-lenggok Cerite Kote II Pukau Rombongan Dharma Wanita Kemenag Kalbar
Dekranasda Pontianak Suguhkan Fashion Show
PONTIANAK - Satu per satu model melangkah, mengenakan kisah yang dijahit dalam busana. Cerite Kote Dua—sebuah peragaan yang merangkum ikon-ikon Pontianak: bangunan bersejarah, denyut sungai, motif corak insang dan kalengkang, hingga warna-warna keberagaman etnis—hadir lewat lenggak-lenggok yang anggun. Sebuah sajian meriah untuk rombongan Dharma Wanita Kemenag Kalbar di Dekranasda Kota Pontianak, Rabu (14/1/2026).
Setiap busana seolah berbicara. Ada Kapuas yang mengalir di motif, ada meriam dan enggang yang disiratkan pada tekstur, ada tangan-tangan perajin yang sabar merangkai tenun. Di bangku penonton, rombongan Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat menyimak dengan senyum—sebagian terkesima, sebagian lain bersorak kagum. Pontianak tengah bercerita tentang identitas, tentang kerja kolektif, tentang perempuan dan UMKM-nya yang terus bergerak.
Cerite Kote Dua menjadi penanda bahwa ekonomi kreatif dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya. Bahwa kota dapat dikenang melalui busana, dan kriya lokal tampil percaya diri di panggungnya sendiri. Semua tak lepas dari upaya Dekranasda Kota Pontianak dalam mengembangkan UMKM Center dan Galeri Dekranasda sebagai ruang pembinaan, kurasi, sekaligus pemasaran bagi produk kriya dan UMKM Kota Pontianak.
“Ini cara kami bercerita tentang kota dengan bahasa fesyen,” kata Ketua Dekranasda Kota Pontianak, Yanieta Arbiastutie.
Yanieta menjelaskan, harga karya di Dekranasda tak dinaikkan. Besarnya sama dengan harga pengrajin. Sejak diresmikan pun, UMKM Center menjadi pusat kegiatan pelatihan dan pendampingan yang melibatkan berbagai perangkat daerah dan organisasi perempuan. Ia pun membuka peluang kolaborasi dengan Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat.
“Perempuan punya peran strategis. Melalui kolaborasi, kita bisa membina lebih banyak perempuan hebat, meningkatkan kompetensi, memperluas pasar, dan menggerakkan ekonomi,” katanya.
Ketua Dharma Wanita Persatuan Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Kalimantan Barat, Salbia Muhajirin menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat Dekranasda Kota Pontianak. Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama RI, sekaligus menjadi ajang pembelajaran ekonomi bagi anggota Dharma Wanita.
Ia menjelaskan, Dharma Wanita Persatuan memiliki program di bidang ekonomi keluarga, sehingga kunjungan ke UMKM Center dan Galeri Dekranasda menjadi kesempatan penting untuk melihat langsung potensi produk lokal Kalimantan Barat. Menurutnya, tidak semua anggota Dharma Wanita yang berasal dari Kalimantan Barat pernah mengunjungi UMKM Center, padahal di tempat tersebut tersimpan banyak produk unggulan daerah.
“Kami datang bukan hanya untuk silaturahmi, tetapi juga belajar. Ternyata di Kota Pontianak ini banyak sekali produk lokal yang berkualitas dan layak dibanggakan. Selama ini kadang kita lebih tertarik pada produk luar, padahal produk daerah kita tidak kalah bagus,” ujarnya.
Ketua Dharma Wanita Kemenag Kalbar juga menceritakan pengalaman Kementerian Agama yang telah memiliki produk batik khas, yang digunakan sebagai seragam ASN Kemenag. Selain itu, pihaknya juga kerap mengangkat kekayaan lokal Kalimantan Barat melalui peragaan busana dalam peringatan HAB di daerah, termasuk fashion show produk-produk khas kabupaten dan kota.
Sebagai orang yang berasal dari Gorontalo, ia mengaku terkesan dengan kekayaan ragam kriya dan fesyen Kalimantan Barat yang setiap daerahnya memiliki ciri khas masing-masing, seperti corak insang Pontianak, tenun dari Melawi dan Sintang, hingga berbagai produk unggulan dari Ketapang dan daerah lainnya. Kekayaan ini, menurutnya, menjadi kekuatan besar yang perlu terus dipromosikan, baik di dalam maupun luar daerah.
“Kalimantan Barat ini luar biasa. Setiap kabupaten dan kota punya identitas sendiri. Saya pribadi senang menggunakan dan memperkenalkan produk Kalimantan Barat, bahkan ketika pulang ke daerah asal saya,” ungkapnya.
Ke depan, Dharma Wanita Persatuan Kemenag Kalbar membuka peluang kolaborasi dengan Dekranasda Kota Pontianak, khususnya dalam pelaksanaan program ekonomi. Ia berharap Dekranasda dapat menjadi narasumber dan mitra pelatihan bagi anggota Dharma Wanita di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
“Insya Allah, ke depan kami ingin mengundang Dekranasda Kota Pontianak untuk berbagi ilmu dan pengalaman, agar ibu-ibu Dharma Wanita semakin berdaya secara ekonomi dan semakin mencintai produk lokal,” pungkasnya. (prokopim/kominfo)