,
menampilkan: hasil
Kualitas Peserta MTQ Harus Standar Nasional
MTQ ke-34 Pontianak Diikuti 269 Peserta
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mendorong kualitas peserta Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-34 Kota Pontianak mampu mencapai nilai tinggi sesuai standar juara nasional. Sejauh ini Pontianak telah memiliki sejumlah qari dan qariah yang berhasil menorehkan prestasi di tingkat nasional maupun internasional. Hal itu menjadi bukti bahwa pembinaan yang berkelanjutan dapat melahirkan generasi Qurani yang membanggakan.
“Kalau bisa nilainya di atas 97, karena itu standar yang bisa bersaing di tingkat nasional. Kita ingin qari dan qariah Kota Pontianak mampu membawa nama harum tidak hanya di tingkat kota, tetapi juga provinsi, nasional, bahkan internasional,” ungkapnya ketika membuka MTQ ke 34 Kota Pontianak di Taman Alun Kapuas, Jumat (19/6/2026) malam.
Untuk itu, ia berpesan kepada dewan hakim dan pengawas agar terus menjaga objektivitas, kualitas penilaian, serta mendorong peningkatan kemampuan para peserta. MTQ tingkat Provinsi Kalimantan Barat di Kayong Utara juga disebutnya menjadi salah satu tolak ukur penting bagi Kota Pontianak dalam mempersiapkan peserta terbaik.
“Bukan hanya mengejar juara umum, tetapi bagaimana kualitas peserta kita benar-benar mampu membawa nama harum Kota Pontianak dan Kalimantan Barat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Wali Kota menilai kegiatan keagamaan seperti MTQ memiliki dampak positif yang luas, tidak hanya dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan, tetapi juga dalam memperkuat nilai sosial di tengah masyarakat. Terlebih, Pontianak sebagai kota dengan luas wilayah terbatas dan jumlah penduduk yang terus bertambah menghadapi berbagai tantangan sosial yang harus ditangani bersama.
Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat. Peran tokoh agama, pemuka masyarakat, tokoh pemuda, organisasi Islam dan seluruh elemen warga sangat dibutuhkan.
“Kita harus bersama-sama berkolaborasi dan bersinergi untuk menciptakan Kota Pontianak yang aman, damai, harmonis dan toleran,” ucapnya.
Karenanya ia berharap gema penyelenggaraan MTQ harus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Kota Pontianak. Nilai-nilai Al-Quran tidak hanya dibaca dan dilantunkan, tetapi juga perlu dipahami maknanya serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapan kita, MTQ ini bisa meningkatkan ukhuwah Islamiah dan tali silaturahmi. Yang paling penting, bagaimana Al-Quran menjadi pedoman hidup masyarakat Kota Pontianak,” ujarnya.
Ketua Panitia MTQ ke 34 Kota Pontianak, Yusnaldi menjelaskan ajang kali ini diikuti 269 peserta. Para peserta merupakan utusan dari enam kecamatan se-Kota Pontianak. Perlombaan dilaksanakan selama lima hari, mulai 19 hingga 23 Juni 2026. Adapun lokasi kegiatan dipusatkan di mimbar utama Taman Alun Kapuas, Aula Lingkungan Kantor Wali Kota Pontianak, Aula Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah Kota Pontianak, serta Masjid Al-Khalifah di Kompleks Kantor Wali Kota Pontianak.
Selain itu, terdapat tujuh cabang yang dilombakan. Cabang tersebut meliputi Tilawah untuk kategori anak-anak, remaja, dewasa dan tuna netra; Qiraat Sab’ah dan usia emas; Hifzil Quran; Syarhil Quran; Fahmil Quran; Khattil Quran; serta Karya Tulis Ilmiah Hadis.
Untuk cabang Hifzil Quran, kategori yang dilombakan antara lain 1 juz ma’at tilawah, 5 juz ma’at tilawah, 10 juz, 20 juz, 30 juz, serta Tartil Anak. Sementara untuk cabang Khattil Quran terdiri dari kategori naskah, mushaf, dekorasi, kontemporer, dan digital.
Menurutnya, pelaksanaan MTQ juga diharapkan mampu mengembangkan budaya literasi dan dakwah Qurani di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat karakter religius dalam kehidupan sosial.
“Melalui MTQ ini, kita ingin budaya literasi dan dakwah Qurani semakin tumbuh di masyarakat. Nilai-nilai Al-Quran diharapkan tidak hanya dibaca, tetapi juga dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” tutupnya. (prokopim)
Festival 1000 Bakcang Dibagikan Gratis
Wako Edi Dorong Bakcang Jadi Makanan Khas
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mendorong bakcang menjadi salah satu makanan khas Kota Pontianak. Bakcang tidak hanya memiliki nilai kuliner, tetapi juga mengandung filosofi keberagaman dan kebersamaan. Makanan berbahan ketan yang berisi ayam, daging, telur asin, dan bahan lainnya itu dinilainya mencerminkan semangat persatuan dalam perbedaan.
“Filosofi bakcang ini menunjukkan adanya keberagaman dan kebersamaan untuk kita bersatu, sama-sama membangun kota kita,” ujarnya saat membuka Festival 1000 Bakcang Tahun 2026 di Taman Alun Kapuas, Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, Festival 1000 Bakcang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Tionghoa yang turut memperkuat identitas Pontianak sebagai kota budaya. Pontianak dihuni oleh berbagai suku bangsa dari seluruh Indonesia bahkan mancanegara, sehingga keberagaman tersebut harus terus dirawat.
“Pontianak sekarang ini merupakan salah satu kota budaya, karena penduduknya terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang ada di Indonesia, bahkan dari mancanegara,” katanya.
Edi menyebut Sungai Kapuas sebagai urat nadi dan bagian penting dalam perjalanan Kota Pontianak. Karena itu, berbagai kegiatan budaya yang tumbuh di kota ini harus didukung dan dikolaborasikan agar memberi dampak positif bagi keharmonisan dan toleransi masyarakat.
“Kegiatan budaya seperti ini patut kita dukung dan kolaborasikan menjadi bagian dari kegiatan yang memberi dampak positif untuk keharmonisan dan toleransi warga,” jelasnya.
Ia mengajak panitia dan masyarakat Tionghoa menjadikan Festival 1000 Bakcang sebagai momentum mempererat silaturahmi. Selain itu, festival ini juga diharapkan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat, terutama pelaku UMKM kuliner. Menurut Edi, bakcang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu ikon kuliner Pontianak. Bahkan, ia berharap bakcang tidak hanya hadir saat festival, tetapi dapat tersedia setiap hari sebagai pilihan kuliner khas yang bisa dinikmati warga maupun wisatawan.
“Bisa juga nanti bakcang ini menjadi salah satu ciri khas makanan Kota Pontianak. Kalau ada tamu dari luar, bakcang ini ada di Kota Pontianak, tidak hanya saat festival, tetapi setiap hari,” ungkapnya.
Pontianak saat ini semakin dikenal sebagai kota kuliner. Banyak wisatawan maupun tamu dari luar daerah yang datang kembali ke Pontianak karena rindu dengan cita rasa makanan yang khas dan beragam.
“Teman-teman yang datang dari luar kota atau dari daerah ke Pontianak selalu rindu dengan kulinernya. Mereka datang ke Pontianak hanya ingin menikmati kuliner-kuliner yang ada,” tuturnya.
Karena itu, ia berharap keberagaman kuliner yang dimiliki Pontianak terus diperkuat. Festival 1000 Bakcang diharapkan tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga ruang promosi kuliner dan ekonomi kreatif yang memberi manfaat bagi masyarakat.
“Ini yang perlu kita tingkatkan di tengah keberagaman jenis makanan yang ada di Kota Pontianak,” katanya. (prokopim)
Terjunkan Eskavator Amfibi Keruk Parit, Upaya Pemkot Atasi Banjir
PONTIANAK – Pemerintah Kota Pontianak terus berupaya menangani persoalan banjir dan genangan yang terjadi di sejumlah kawasan, terutama saat hujan deras bersamaan dengan pasang air sungai atau rob.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, kondisi banjir di Pontianak tidak terlepas dari karakter topografi kota yang relatif datar. Kondisi tersebut membuat aliran air membutuhkan waktu lebih lama untuk surut, terutama ketika curah hujan tinggi terjadi dalam durasi panjang.
“Banjir di Kota Pontianak ini memang kita sudah berupaya. Kota Pontianak topografinya flat. Kemarin hujan lebih dari tiga jam dengan curah hujan yang besar, berdasarkan data yang saya dapatkan dari BMKG,” ujarnya, Kamis (18/6/2026).
Selain curah hujan tinggi, Edi menjelaskan bahwa kondisi pasang rob juga turut memengaruhi terjadinya genangan. Hingga tanggal 19 Juni, air pasang rob diperkirakan mencapai sekitar dua meter, dengan puncak pasang terjadi pada malam hari, sekitar pukul 21.00 hingga 22.00 WIB.
“Sekarang ini sampai tanggal 19 air pasang rob sampai dua meter. Jam puncaknya sekitar jam 9 atau 10 malam. Karena hujannya besar, kawasan yang rendah menjadi tergenang,” katanya.
Edi menyebut, Pemkot Pontianak terus melakukan sejumlah upaya penanganan. Salah satunya meningkatkan fungsi parit-parit dan saluran air melalui pengerukan, penurapan, serta pembenahan saluran besar agar aliran air dapat bergerak lebih lancar.
“Upaya kita tetap meningkatkan fungsi parit-parit yang ada, dengan pengerukan dan penurapan, termasuk parit-parit besar,” jelasnya.
Selain itu, Pemkot Pontianak juga melakukan program pompanisasi dengan pengadaan dua unit pompa untuk membantu mempercepat pengaliran air di kawasan yang rawan tergenang. Upaya lain yang dilakukan adalah mengganti jembatan-jembatan yang selama ini dinilai menghambat percepatan aliran air menuju Sungai Kapuas. Edi mencontohkan kawasan Parit Tokaya yang memiliki area tangkapan air cukup luas dan membutuhkan konektivitas antarsaluran agar air dapat mengalir lebih optimal.
“Kita akan mengganti jembatan-jembatan yang selama ini menghambat percepatan air menuju Sungai Kapuas. Salah satu contoh Parit Tokaya, karena catchment area-nya luas. Ini akan kita koneksikan antara parit dengan parit,” paparnya.
Edi menambahkan, Pemerintah Kota Pontianak telah memiliki program dan master plan penanganan banjir. Pemkot juga terus berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Kalimantan I, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.
Menurutnya, penanganan banjir di Pontianak tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah kota, karena persoalan air berkaitan dengan wilayah yang lebih luas dan membutuhkan dukungan lintas kewenangan.
“Kita sudah punya master plan dan sudah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Kalimantan I, Kementerian PU, dan Pemerintah Provinsi. Karena bicara banjir Kota Pontianak ini juga menyangkut masalah wilayah,” katanya.
Ia menegaskan, Pemkot Pontianak akan terus melakukan penanganan secara bertahap melalui perbaikan drainase, normalisasi saluran, pompanisasi, penataan infrastruktur, serta kolaborasi dengan pemerintah provinsi dan pusat.
“Tidak bisa menyelesaikan hanya di kota saja, tetapi juga melibatkan provinsi dan Kementerian PU,” pungkasnya. (prokopim)
Pemkot Perkuat Respon Pengaduan Publik lewat Bimtek SP4N-LAPOR
PONTIANAK – Pemerintah Kota Pontianak melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) SP4N-LAPOR! di Ruang Studio Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pontianak, Kamis (18/6/2026). Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas pengelola pengaduan agar mampu memberikan respon yang cepat, tepat, dan solutif terhadap setiap laporan masyarakat.
Plh Kepala Diskominfo Kota Pontianak, Vivi Salmiarni, mengatakan setiap aduan yang disampaikan masyarakat merupakan bentuk harapan agar pemerintah hadir memberikan respon dan solusi atas permasalahan yang mereka hadapi.
“Masyarakat menyampaikan keluhan atau pengaduan karena mereka ingin didengar, ingin mendapatkan respon, dan berharap ada tindak lanjut ataupun solusi dari masalah yang sedang mereka hadapi,” ujarnya.
Menurut Vivi, peran pengelola pengaduan sangat penting karena sebagian besar laporan yang masuk berawal dari persoalan sehari-hari, mulai dari pelayanan administrasi, kebersihan lingkungan, hingga persoalan infrastruktur dan sosial kemasyarakatan.
Ia menjelaskan, respon yang cepat, ramah, dan disertai koordinasi yang baik antarinstansi dapat mencegah sebuah persoalan berkembang menjadi masalah yang lebih besar. Sebaliknya, keterlambatan dalam menindaklanjuti laporan berpotensi menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
“Ketika admin atau pengelola pengaduan cepat merespon, aktif berkoordinasi, dan memberikan tanggapan yang baik, maka laporan yang masuk tidak akan menumpuk menjadi masalah besar. Kepercayaan masyarakat juga dapat terus terjaga,” katanya.
Vivi juga menegaskan bahwa kanal SP4N-LAPOR! bukan sekadar aplikasi pelaporan, melainkan sarana kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan pelayanan publik.
“Admin pengaduan bukan hanya operator yang menerima laporan, tetapi juga menjadi penghubung antara masyarakat dengan pemerintah. Karena itu dibutuhkan kecepatan respon, ketelitian, dan kepekaan dalam memahami setiap aduan yang masuk,” ungkapnya.
Ia berharap setelah mengikuti bimtek, para pengelola SP4N-LAPOR! semakin percaya diri dalam mengelola pengaduan masyarakat serta mampu memperkuat koordinasi antara kelurahan, kecamatan, perangkat daerah, dan instansi terkait.
“Kami ingin pelayanan pengaduan publik benar-benar menjadi sarana penyelesaian masalah, bukan sekadar formalitas administrasi. Pengalaman dan praktik baik yang dimiliki setiap pengelola pengaduan juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi peserta lainnya,” tutup Vivi. ( kominfo )