,
menampilkan: hasil
MTQ ke-34 Pontim Berakhir, Sekda: Pemenang Terus Asah Kemampuan
PONTIANAK – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-34 tingkat Kecamatan Pontianak Timur tahun 2026 telah berakhir. Sekretaris Daerah Kota Pontianak Amirullah menyampaikan ucapan selamat kepada para peserta yang berhasil meraih juara. Ia mengingatkan agar para pemenang tidak cepat berpuas diri dan terus mengasah kemampuan.
“Sementara bagi peserta yang belum meraih juara, jangan berkecil hati. Tetap semangat belajar dan berlatih. Nilai tertinggi dari MTQ ini bukan sekadar kemenangan, tetapi seberapa besar niat dan usaha kita dalam mencintai Al-Qur’an,” pesannya saat menutup MTQ ke-34 Tingkat Kecamatan Pontianak Timur di Gedung BPMP Provinsi Kalbar, Minggu (3/5/2026) malam.
Ia berharap semangat pembinaan terus dijaga agar mampu melahirkan qori dan qoriah terbaik yang dapat mengharumkan nama Kota Pontianak di tingkat yang lebih tinggi.
“Untuk menghasilkan bibit qori dan qoriah yang unggul, dibutuhkan kerja keras, pemahaman mendalam, serta keikhlasan. Saya mengapresiasi seluruh panitia dan pengurus LPTQ yang telah berkontribusi nyata dalam memajukan pembangunan bidang keagamaan melalui MTQ ini,” ujar Amirullah.
Ia menambahkan, MTQ tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
“MTQ ini menjadi momentum penting dalam membina generasi Qurani serta meningkatkan kualitas tilawah Al-Qur’an di Kota Pontianak,” tutupnya. (prokopim)
Budayakan Gotong Royong Jaga Kebersihan Lingkungan
Edi - Bahasan Pimpin Aksi Gotong Royong Serentak
PONTIANAK - Pemerintah Kota Pontianak gencar menggalakkan aksi gotong royong membersihkan lingkungan bersama masyarakat. Kerja bakti bersih-bersih lingkungan digelar secara serentak di enam kecamatan.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono memimpin gotong royong di sepanjang Jalan Budi Karya Kecamatan Pontianak Selatan. Di lokasi ini, Edi berbaur bersama warga menebas rumput dan tanaman liar yang menjalar di pinggir jalan.
Edi mengajak seluruh warga untuk menjadikan gotong royong sebagai kebiasaan dalam menjaga kebersihan dan kualitas lingkungan. Jika jadi kebiasaan, hal ini bukan lagi kegiatan membersihkan lingkungan secara sesaat. Tetapi momentum untuk membangun kesadaran bersama agar kawasan permukiman, jalan, drainase, dan ruang publik tetap tertata, bersih, dan nyaman.
“Gotong royong ini kita lakukan untuk membersihkan lingkungan, memperbaiki dan meningkatkan kualitas prasarana lingkungan supaya semakin baik. Ini juga momentum bagaimana kita membiasakan lingkungan kita bersih dan tertata,” ujarnya saat membuka aksi gotong royong serentak se-Kota Pontianak di Jalan Budi Karya, Pontianak Selatan, Minggu (3/5/2026).
Menurutnya, Kota Pontianak terus berkembang, baik dari sisi jumlah penduduk maupun aktivitas masyarakat. Di tengah keterbatasan lahan, kualitas lingkungan harus dijaga agar kota tetap nyaman dihuni.
“Lahan kita sangat terbatas. Karena itu, kalau lahan yang terbatas ini kita jaga, kita tata baik kualitas maupun penataannya, termasuk penghijauan dan kebersihan, maka dampaknya akan sangat besar bagi lingkungan,” katanya.
Edi menjelaskan, Pontianak memiliki karakter geografis yang khas. Selain berada di garis khatulistiwa, kondisi tanah kota ini sebagian besar merupakan tanah endapan dan lahan gambut. Karakter tersebut membuat Pontianak memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait genangan saat hujan deras maupun air pasang.
“Tantangan kita adalah genangan. Saat air pasang, ada beberapa titik daratan yang masih berada di bawah permukaan air laut. Kalau hujan lebat dan air pasang tinggi, airnya lambat surut,” jelasnya.
Terpisah, Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan juga ikut memimpin gotong royong di Jalan Ya’M Sabran Kecamatan Pontianak Timur. Ia mengajak masyarakat untuk terus melestarikan budaya gotong royong sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan kota. Menurutnya, gotong royong merupakan warisan budaya bangsa yang harus terus dijaga dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Gotong royong ini adalah warisan budaya leluhur yang harus kita lestarikan. Saya yakin semua suku bangsa di Indonesia memiliki nilai gotong royong yang sudah diwariskan sejak dahulu,” sebutnya.
Bahasan bilang, kegiatan gotong royong tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ibadah. Ia mengingatkan bahwa dalam ajaran agama, menjaga kebersihan merupakan bagian dari iman.
“Jangan kita anggap kegiatan seperti ini tidak bernilai. Justru gotong royong ini memiliki nilai pahala yang besar karena kita menjaga kebersihan dan memberikan manfaat bagi banyak orang,” imbuhnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Pontianak, Amirullah, yang memimpin langsung aksi gotong royong di Jalan Ampera, Kecamatan Pontianak Kota, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Menurutnya, kegiatan gotong royong tidak hanya sebatas membersihkan lingkungan, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
“Kegiatan ini bukan hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga membangun kebersamaan dan rasa memiliki terhadap lingkungan tempat kita tinggal,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Amirullah menyebutkan bahwa peran Ketua RT dan RW sangat penting dalam mengedukasi dan menggerakkan masyarakat di lingkungannya masing-masing.
“RT dan RW menjadi ujung tombak dalam menyampaikan informasi sekaligus menggerakkan warga untuk peduli terhadap kebersihan lingkungan,” pungkasnya. (prokopim)
Medsos Pemerintah Harus Responsif, Bukan Reaktif
PONTIANAK – Sekretaris Daerah Kota Pontianak Amirullah menegaskan bahwa media sosial pemerintah tidak lagi boleh hanya menjadi ruang publikasi kegiatan semata. Di era digital, media sosial pemerintah harus mampu menjadi ruang interaksi, dialog, sekaligus saluran aspirasi masyarakat. Perkembangan media sosial membuat pola komunikasi pemerintah dengan masyarakat berubah sangat cepat.
Ia pun meminta media sosial pemerintah bertransformasi dari pola komunikasi yang pasif menjadi lebih responsif, bahkan proaktif. Namun ia mengingatkan agar pengelola media sosial memahami perbedaan antara responsif dan reaktif.
“Bukan diminta reaktif, tetapi responsif. Kalau reaktif itu menunggu masalah muncul dulu baru menjawab. Tapi kalau responsif, kita memperhatikan lingkungan sekitar, tahu apa yang harus dilakukan, dan cepat menyesuaikan diri,” jelasnya saat membuka bimbingan teknis pengelolaan konten dan media sosial di lingkungan Pemerintah Kota Pontianak, Selasa (28/4/2026).
Karena itu, ia menyebut peran pengelola media sosial pemerintah menjadi semakin strategis. Mereka tidak hanya dituntut mampu membuat konten yang menarik dan informatif, tetapi juga harus memiliki kepekaan, etika, serta kemampuan komunikasi publik.
Amirullah menekankan, komentar, pesan, dan tanggapan masyarakat di media sosial harus dipandang sebagai masukan berharga. Menurutnya, masyarakat hari ini tidak lagi ingin hanya menjadi penonton, tetapi juga ingin didengar dan dilibatkan dalam proses pembangunan.
Amirullah juga menyampaikan pesan Wali Kota Pontianak agar pengelolaan media sosial pemerintah mengedepankan mitigasi dan pencegahan. Artinya, pemerintah tidak menunggu masalah membesar baru memberikan klarifikasi, tetapi sejak awal mampu menangkap isu dan memberi penjelasan secara tepat.
“Jangan menunggu masalah besar baru sibuk klarifikasi. Kalau sudah terlanjur besar, tentu lebih sulit ditangani,” ujarnya.
Ia berharap melalui bimbingan teknis tersebut, para peserta mampu menyusun konten yang informatif, edukatif, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat. Konten pemerintah, lanjutnya, harus mudah dipahami, sesuai norma yang berlaku, serta nyaman dilihat oleh berbagai lapisan masyarakat.
Amirullah juga mengingatkan para pengelola konten agar kreatif tanpa melupakan etika. Menurutnya, konten yang dibuat untuk kanal pemerintah harus memperhatikan nilai sosial, budaya, dan norma masyarakat setempat.
“Konten kreator dituntut kreatif, tetapi tetap harus memahami kondisi masyarakat. Tidak semua gaya konten bisa diterapkan. Kita harus memperhatikan norma yang berlaku,” tegasnya.
Ia menambahkan, konten yang baik adalah konten yang komunikatif, tidak membosankan, mudah dicerna, dan mampu menyampaikan pesan pemerintah secara jelas. Dengan begitu, media sosial pemerintah dapat menjadi sarana komunikasi publik yang efektif dan dipercaya masyarakat.
“Pemerintah Kota Pontianak berkomitmen terus mendorong keterbukaan informasi, partisipasi publik, dan pelayanan yang responsif. Pengelola media sosial adalah mitra strategis dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang komunikatif, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan warga,” pungkasnya. (prokopim)
Sekda Tekankan Nilai Qurani dan Karakter Generasi
Pembukaan MTQ ke-34 Pontianak Barat
PONTIANAK – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Pontianak Amirullah mengatakan pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tidak boleh dimaknai sekadar rutinitas seremonial atau ajang perlombaan, namun harus menjadi wadah memperkuat nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat. Apalagi tahun ini, MTQ ke-34 tingkat Kecamatan Pontianak Barat diikuti 266 peserta dari empat kelurahan.
“Pelaksanaan MTQ tahun ini bukan sekadar rutinitas seremonial atau ajang perlombaan. Tema yang kita angkat adalah gerakan transformasi menuju Kota Pontianak yang qurani, cerdas, berkarakter, dan adaptif,” ujarnya ketika membuka agenda tersebut di Aula Kantor Camat Pontianak Barat, Minggu (26/4/2026).
Ia menjelaskan, terdapat empat pilar penting dalam tema tersebut. Pertama adalah qurani, yakni bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dapat membumi di Kota Pontianak, tidak hanya dibaca tetapi juga menjadi pedoman moral dalam perilaku sehari-hari. Pilar kedua adalah cerdas. Amirullah menyebut Al-Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan, sehingga generasi muda harus cerdas secara intelektual namun tetap berpijak pada tuntunan wahyu Allah SWT.
“Generasi kita harus cerdas secara intelektual, namun tetap berpijak pada tuntunan wahyu Allah SWT,” katanya.
Pilar ketiga adalah berkarakter. Menurutnya, di tengah derasnya pengaruh budaya global, rumah dan keluarga harus menjadi benteng utama dalam membentuk generasi yang jujur, amanah, dan berintegritas berdasarkan nilai-nilai Islam. Sementara pilar keempat adalah adaptif. Amirullah menilai dunia saat ini berubah sangat cepat, sehingga Kota Pontianak harus menjadi kota yang tangkas dan inovatif tanpa kehilangan jati diri sebagai masyarakat yang religius.
Kepada seluruh peserta, ia berpesan agar mengikuti MTQ dengan niat ibadah dan syiar Islam. Menjadi juara, menurutnya, merupakan bonus, sementara tugas utama yang lebih penting adalah menjadi duta Al-Qur’an di lingkungan masing-masing.
“Menjadi juara adalah bonus, namun menjadi duta Al-Qur’an di lingkungan masing-masing adalah tugas utama kita selamanya,” ungkapnya.
Ia juga berpesan kepada dewan hakim agar memberikan penilaian secara adil dan objektif. Penilaian yang baik, katanya, akan menentukan kualitas peserta terbaik yang nantinya mewakili Kota Pontianak pada jenjang yang lebih tinggi.
“Dewan hakim diminta memberikan penilaian yang seadil-adilnya dan seobjektif mungkin, sesuai metode penilaian dan kondisi sebenarnya,” pungkasnya.
MTQ ke-34 tingkat Kecamatan Pontianak Barat Tahun 2026 diikuti total 266 peserta. Jumlah tersebut terdiri dari 101 peserta laki-laki dan 90 peserta perempuan untuk cabang perorangan, serta tambahan peserta beregu pada cabang Syarhil Qur’an dan Fahmil Qur’an sebanyak 9 regu laki-laki dan 16 regu perempuan.
Pelaksanaan lomba tersebar di beberapa lokasi. Aula Kecamatan Pontianak Barat menjadi tempat perlombaan cabang Tartil Anak-anak, Tilawah Anak-anak, Tilawah Remaja, Tilawah Dewasa, dan Tilawah Usia Emas. Sementara Aula Kelurahan Sungai Jawi Luar digunakan untuk cabang Fahmil Qur’an dan Syarhil Qur’an.
Untuk cabang kaligrafi, perlombaan dilaksanakan di SMA Kapuas Pontianak, meliputi Kaligrafi Naskah, Kaligrafi Hiasan Mushaf, Kaligrafi Dekorasi, Kaligrafi Kontemporer, dan Kaligrafi Digital. Sedangkan Masjid Syaiful Islam Lantai 2 menjadi lokasi cabang Tahfiz 1 Juz, 5 Juz, 10 Juz, 20 Juz, 30 Juz, Murattal Remaja, Murattal Dewasa, dan Mujawwad Dewasa. (prokopim)