,
menampilkan: hasil
Optimalisasi Waduk Penepat Tingkatkan Kualitas Air Bersih
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono meninjau Waduk Penepat di Desa Korek, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kamis (27/8/2026). Waduk ini menjadi salah satu sumber air baku cadangan yang diandalkan Perumda Tirta Khatulistiwa saat musim kemarau, terutama ketika kadar garam di Sungai Kapuas meningkat akibat intrusi air laut.
Edi mengatakan, kondisi air baku saat ini menjadi tantangan besar bagi pelayanan air bersih di Kota Pontianak. Pasalnya, Sungai Kapuas yang selama ini menjadi sumber utama air baku mengalami peningkatan kadar garam cukup tinggi. Akibatnya, air yang didistribusikan ke warga terasa asin.
“Kadar garamnya sudah sampai 5.000 miligram per liter lebih. Sementara yang disyaratkan berdasarkan ketentuan kesehatan maksimum 600 miligram per liter, itu pun untuk kebutuhan mandi. Untuk air minum harus di bawah 300 miligram per liter,” ujarnya.
Waduk Penepat tersebut terhubung ke instalasi PDAM Imam Bonjol melalui jaringan pipa sepanjang sekitar 30 kilometer. Jika berfungsi optimal, kapasitas yang direncanakan bisa mencapai sekitar 1.000 liter per detik. Namun saat ini, suplai air dari Penepat belum optimal lantaran masih dalam perbaikan Balai Wilayah Sungai Kalimantan I. Dari kebutuhan produksi air bersih Kota Pontianak yang mencapai sekitar 2.000 liter per detik dari empat intake, yakni Imam Bonjol, Nipah Kuning, Selat Panjang dan Parit Mayor, pasokan dari Penepat baru mampu sekitar 200 liter per detik.
“Yang sekarang sedang dipompa ke Imam Bonjol hanya mampu 200 liter per detik karena masih belum optimal,” jelasnya.
Ia menyebut, cakupan pelayanan air bersih di Kota Pontianak saat ini sudah mencapai sekitar 90,6 persen. Karena itu, gangguan pada air baku akan berdampak luas terhadap pelayanan kepada masyarakat. Waduk Penepat memiliki luas sekitar 6,6 hektare, sementara lahan milik Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa di kawasan tersebut sekitar 9 hektare. Saat ini, infrastruktur pendukung waduk, termasuk saluran inlet dan outlet, sedang dalam proses pembenahan oleh Balai Wilayah Sungai Kapuas melalui APBN.
“Infrastruktur outlet maupun inlet sedang dikerjakan perbaikannya oleh Balai Wilayah Sungai Kapuas menggunakan APBN tahun ini sekitar Rp16,6 miliar,” ungkapnya.
Edi menegaskan, persoalan utama yang dihadapi Kota Pontianak saat ini adalah ketersediaan air baku. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air, yang telah diperbarui dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023, penyediaan air baku menjadi tanggung jawab pemerintah pusat atau pemerintah daeerah sesuai kewenangannya.
“Air baku ini menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, atau daerah dalam hal ini provinsi,” katanya.
Di sisi lain, Pemkot Pontianak melalui Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa setiap tahun membayar retribusi air permukaan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Pada tahun 2025, nilai retribusi yang dibayarkan mencapai lebih dari Rp2,4 miliar.
“Kita setiap tahun membayar retribusi air permukaan ke provinsi. Tahun 2025 saja Rp2,4 miliar lebih. Artinya kita membeli air, kita bayar, lalu kita olah dan distribusikan ke masyarakat,” jelasnya.
Edi berharap pembenahan Waduk Penepat bisa segera diselesaikan agar fungsi waduk sebagai sumber air baku dapat lebih optimal, terutama dalam kondisi darurat kemarau.
“Dalam kondisi darurat ini kita berharap bisa cepat selesai dan dievaluasi supaya waduknya berfungsi. Pipa-pipa yang bocor menuju Pontianak juga harus diperbaiki,” ujarnya.
Untuk jangka panjang, Edi berharap Kementerian PU dapat membantu menambah satu jalur pipa lagi dengan diameter 800 milimeter. Dengan tambahan tersebut, pasokan air baku ke Kota Pontianak akan lebih aman saat menghadapi kondisi darurat seperti kemarau panjang.
“Ke depan kita berharap bisa diperjuangkan untuk menambah satu track lagi, 800 milimeter. Ini untuk jangka panjang, supaya kalau darurat seperti ini kita tidak kesulitan,” katanya.
Ia juga mendorong adanya solusi lain selain waduk, misalnya pembangunan bendung karet atau infrastruktur pengendali air di kawasan Sungai Penepat. Menurutnya, sumber air baku tersebut tidak hanya penting bagi Kota Pontianak, tetapi juga bagi Kubu Raya dan wilayah sekitar.
Perwakilan Balai Wilayah Sungai Kalimantan I, Novizar Ardiyansyah mengatakan pihaknya saat ini sedang melakukan peningkatan kapasitas waduk penepat. Semestinya kapasitas sambungan mencapai 1.000 liter per detik, tapi saat ini baru 500 liter per detik karena masih dalam tahap perbaikan.
"Saat ini kami masih menunggu bahan dari jakarta, untuk perbaikan dua pipa. Dalam Waktu dekat akan selesai," katanya.
Sementara itu, Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin menyatakan pihaknya siap mengawal upaya Pemerintah Kota Pontianak dalam memperjuangkan dukungan pemerintah pusat untuk optimalisasi penyediaan air baku. Dukungan tersebut dinilai penting untuk menjaga pelayanan air bersih bagi masyarakat, terutama saat musim kemarau dan meningkatnya kadar garam pada sumber air baku.
DPRD Kota Pontianak akan berkoordinasi dengan Komisi V DPR RI agar penanganan infrastruktur air baku dapat diperkuat melalui dukungan pusat.
“Kita minta nanti untuk Komisi V, saya akan bicara dengan Ketua Komisi V dan juga Ketua DPP PDI Perjuangan untuk membantu yang ada di Penepat ini,” ujarnya.
Menurutnya, saat ini pembenahan di kawasan sumber air baku Penepat sudah berjalan, namun dukungan yang ada masih perlu diperkuat. Ia menyebut, Pemerintah Kota Pontianak dapat menyiapkan proposal kebutuhan teknis untuk kemudian dibawa bersama ke pemerintah pusat.
Satarudin menilai, penyediaan air baku merupakan isu strategis yang tidak bisa hanya ditangani oleh pemerintah kota. Apalagi, berdasarkan ketentuan perundang-undangan, air baku menjadi bagian dari kewenangan pemerintah pusat.
“Ini pasti berlanjut. Kami akan kawal bersama Pemerintah Kota Pontianak agar penyediaan air bersih untuk masyarakat bisa lebih aman dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Layanan Air Tawar
Sementara untuk kebutuhan mendesak masyarakat, Edi menyebut Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa telah menyiapkan layanan air tawar gratis di beberapa titik. Di antaranya di Kantor Perumda Tirta Khatulistiwa, dan booster di Perumnas III, serta titik-titik lain yang akan disiapkan sesuai kebutuhan.
“Kalau masyarakat perlu air tawar untuk minum, ini gratis. Bisa membawa galon atau wadah lainnya. Tapi tidak untuk komersil,” ujarnya.
Ia juga memerintahkan Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa menyiapkan dukungan distribusi air bersih melalui mobil tangki, terutama untuk wilayah yang rawan terdampak. Pemkot juga akan berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Kapuas, Dinas PUPR Provinsi, dan bidang sumber daya air untuk mendukung pendistribusian tersebut.
“Saya perintahkan PDAM, dan mudah-mudahan dibantu Balai Wilayah Sungai, Dinas PU Provinsi, untuk menyiapkan mobil tangki mendrop air tawar ke daerah-daerah rawan, khususnya untuk air minum. Gratis,” pungkasnya. (prokopim)
16 Tim Bersaing Merancang Logo Hari Jadi ke-255 Pontianak
PONTIANAK – Sebanyak 16 tim kreatif bakal bersaing merancang logo Hari Jadi ke-255 Pontianak. Jumlah itu telah diseleksi dari total 29 tim yang mendaftar. Dalam rangkaian awal, mereka mengikuti Workshop Perancangan Logo di Hotel Star Pontianak, Rabu (26/8/2026). Nantinya, mereka akan didampingi mentor untuk menghasilkan karya terbaik.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Pontianak, Rizal mengatakan, kegiatan ini digelar untuk memberi ruang lebih besar bagi kreator lokal Pontianak dalam merancang identitas visual hari jadi kota.
“Tahun ini kita coba agar kegiatan ini benar-benar bisa di-branding oleh orang Kota Pontianak,” ujarnya.
Penjaringan tim dilakukan dengan ketentuan ketua tim harus ber-KTP Kota Pontianak. Hal ini menjadi bagian dari upaya memastikan karya yang lahir benar-benar memiliki kedekatan dengan identitas, karakter, dan semangat warga Pontianak.
“Karena kalau kita buka di ruang publik yang luas, kita tidak bisa mengatur yang datang dari kabupaten lain atau provinsi lain. Maka tahun ini kita coba dorong agar ini menjadi kebanggaan orang Kota Pontianak,” katanya.
Menurutnya, workshop ini tidak hanya menekankan kemampuan teknis desain. Peserta juga diharapkan mampu menuangkan ide, gagasan, dan kreativitas ke dalam karya yang memiliki nilai estetika sekaligus makna yang kuat.
“Logo bukan sekadar gambar atau simbol. Logo merupakan identitas visual yang dapat merepresentasikan karakter, sejarah, budaya, nilai-nilai, serta semangat suatu daerah,” jelasnya.
Rizal menilai, logo hari jadi kota memiliki peran penting dalam membangun ingatan publik. Ia mencontohkan, tagline Hari Jadi Pontianak ke-254, yakni Pontianak Bersahabat, masih melekat dan digunakan dalam berbagai kegiatan maupun media publikasi sepanjang tahun.
“Pontianak Bersahabat itu masih melekat. Bahkan bahasa tubuh bersalaman sampai menjadi hampir di setiap pertemuan,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap peserta workshop mampu menggali potensi dan identitas Kota Pontianak, kemudian menerjemahkannya ke dalam konsep desain yang komunikatif, efektif, dan sesuai dengan konteks kekinian.
“Gali potensi dan identitas kota, lalu terjemahkan dalam konsep desain yang komunikatif, efektif, dan sesuai dengan keadaan sekarang,” katanya.
Dari 16 tim yang mengikuti kegiatan ini, nantinya akan dipilih lima karya finalis terbaik. Dari lima finalis tersebut, hanya satu tim yang akan ditetapkan sebagai pemenang utama perancangan logo Hari Jadi ke-255 Pontianak.
Meski demikian, Rizal menyebut empat finalis lainnya tetap akan mendapat apresiasi. Menurutnya, proses kreatif yang dilalui peserta tetap penting sebagai bagian dari pembinaan dan penguatan ekosistem ekonomi kreatif di Kota Pontianak.
Ia berharap workshop selama dua hari ini dapat menjadi ruang belajar bagi peserta untuk mengasah kemampuan, berdiskusi, bertukar gagasan, dan memperkaya wawasan mengenai proses kreatif dalam menghasilkan desain.
“Manfaatkan kesempatan ini untuk bertanya kepada narasumber, berdiskusi, bertukar gagasan, serta memperkaya wawasan mengenai proses kreatif dalam menghasilkan sebuah desain,” pesannya.
Rizal mengatakan, kegiatan ini juga menjadi upaya Disporapar melalui bidang ekonomi kreatif untuk membangun pola baru dalam perancangan logo hari jadi. Jika hasil evaluasi menunjukkan dampak yang baik, model workshop dan kurasi seperti ini berpeluang dilanjutkan pada tahun berikutnya.
“Semoga kegiatan ini menjadi langkah awal bagi lahirnya karya desain yang berdaya dan mampu merepresentasikan semangat Kota Pontianak,” pungkasnya. (prokopim)
Wali Kota Tinjau Kebakaran Ruko di Jalan Barito
Amankan Lokasi Cegah Timbul Korban
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono meminta bangunan ruko yang terdampak kebakaran di kawasan Jalan Barito, Kelurahan Benua Melayu Laut, Kecamatan Pontianak Selatan, Rabu (26/8/2026) dini hari segera diamankan. Langkah ini penting untuk mencegah terjadinya korban susulan akibat bagian bangunan yang berpotensi runtuh.
“Yang paling penting sekarang diamankan dulu, jangan sampai menimbulkan korban berikutnya,” katanya usai meninjau lokasi kebakaran, Rabu pagi.
Edi mengatakan, berdasarkan keterangan sementara dari saksi mata, api diduga berasal dari salah satu kios. Namun, penyebab pasti kebakaran masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang. Dari hasil peninjauan di lapangan, Edi menyebut kebakaran menghanguskan deretan ruko di kawasan Jalan Barito. Kerusakan banyak terjadi pada bagian lantai dua hingga lantai tiga bangunan.
“Ada kurang lebih 18 ruko. Umumnya kerusakan terjadi di lantai dua sampai lantai tiga,” katanya.
Menurut Edi, langkah utama setelah proses pemadaman adalah memastikan area bekas kebakaran aman. Ia menekankan agar bangunan terdampak tidak dibiarkan begitu saja karena kondisi struktur yang rusak dapat membahayakan warga maupun pemilik ruko.
Edi menjelaskan, bangunan yang terbakar merupakan bangunan lama dengan konstruksi kayu. Kondisi tersebut membuat api lebih mudah merambat dan memperbesar risiko kerusakan pada bagian bangunan, terutama di lantai atas.
“Ini bangunan lama, konstruksinya kayu. Jadi memang perlu kehati-hatian dalam penanganannya,” jelasnya.
Kawasan tersebut merupakan tanah Pemkot yang telah diberikan hak guna bangunan atau HGB. Pemerintah Kota Pontianak akan berkoordinasi lebih lanjut dengan pihak terkait, termasuk para pemilik bangunan.
“Ini tanah verponding yang di-HGB-kan. Nanti kita koordinasikan dengan pemilik-pemiliknya,” ungkapnya.
Untuk sementara, Edi menyebut belum ada laporan warga rentan yang tinggal di dalam bangunan terdampak. Kendati demikian, pendataan dan pemeriksaan lapangan tetap diperlukan untuk memastikan kondisi seluruh penghuni maupun pemilik ruko.
“Kita belum bisa menghitung kerugian. Di dalamnya ada material, benda, dan harta milik pemilik yang belum kita ketahui,” jelasnya.
Camat Pontianak Selatan Wulanda Anjaswari menyampaikan, berdasarkan data sementara, kebakaran terjadi sekitar pukul 02.15 WIB dan berdampak pada 18 pintu ruko.
“Sebagian besar bangunan merupakan gudang dan toko," jelasnya.
Saat ini di lokasi sudah dipasang garis polisi. Sejumlah pemilik pun tampak membersihkan ruko masing-masing. Pemerintah bersama instansi terkait akan melanjutkan koordinasi untuk penanganan pascakebakaran, mulai dari pemeriksaan penyebab, pendataan kerusakan, hingga pengamanan bangunan. (prokopim)
Kualitas Udara Tidak Sehat, Wali Kota Ajak Warga Pontianak Gunakan Masker
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan menyusul kualitas udara di Kota Pontianak yang masih tidak sehat akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan. Kondisi udara saat ini perlu menjadi perhatian bersama, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga yang memiliki riwayat gangguan pernapasan. Ia meminta masyarakat tidak memaksakan diri beraktivitas di luar rumah apabila tidak mendesak.
“Saya mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Kalau tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya kurangi aktivitas di luar ruangan,” ujarnya, Senin (24/8/2026).
Berdasarkan laporan kualitas udara 24 jam terakhir dari Stasiun Pemantau Kualitas Udara AQMS Pontianak Tenggara pada Senin (24/8/2026) pukul 07.00 WIB, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menunjukkan angka 193 atau berada pada kategori tidak sehat. Parameter kritis yang terpantau adalah PM2,5, dengan temperatur udara 25,7 derajat Celsius.
Paparan partikel halus PM2,5 dapat berdampak pada kesehatan, terutama saluran pernapasan. Karena itu, penggunaan masker menjadi langkah sederhana namun penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.
“Masker ini penting untuk melindungi diri dari paparan asap. Jadi tidak menunggu sakit baru memakai masker,” katanya.
Ia juga meminta masyarakat memperbanyak minum air putih, menjaga daya tahan tubuh, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala seperti batuk, sesak napas, mata perih, tenggorokan sakit, atau keluhan pernapasan lainnya.
Berdasarkan data BMKG Kalimantan Barat, sebaran titik panas pada 23 Agustus 2026 pukul 00.00 WIB hingga 23.00 WIB tercatat sebanyak 956 titik panas di Kalimantan Barat. Namun tak satu pun berada di wilayah Kota Pontianak. Meski demikian, dampak asap dari karhutla di sejumlah daerah tetap memengaruhi kualitas udara di Kota Pontianak.
“Walaupun titik panas di Pontianak tidak ada, asap dari daerah lain tetap berdampak kepada warga kita. Karena itu, kewaspadaan tetap harus kita tingkatkan,” ujar Edi.
Pemerintah Kota Pontianak terus menyiagakan layanan kesehatan untuk membantu masyarakat yang terdampak kabut asap. Warga yang mengalami keluhan pernapasan dapat mendatangi puskesmas terdekat, rumah sakit, atau Posko Segar di halaman PMI Kota Pontianak.
“Silakan datang ke puskesmas, rumah sakit, atau Posko Segar di halaman PMI apabila membutuhkan pemeriksaan kesehatan atau oksigen,” ungkapnya.
Ia berharap masyarakat saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan, terutama di lingkungan keluarga dan sekitar tempat tinggal. Orang tua juga diminta membatasi aktivitas anak di luar rumah selama kualitas udara belum membaik.
“Yang paling penting, jaga kesehatan keluarga. Gunakan masker, kurangi aktivitas luar ruangan, dan segera periksa apabila ada keluhan,” pungkasnya. (prokopim)