,
menampilkan: hasil
Wako Edi Pastikan Kesiapan Fasilitas Kesehatan Antisipasi Dampak Karhutla
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono meninjau Rumah Sakit Sultan Syarif Mohammad Alkadrie Kota Pontianak dan sejumlah pusat kesehatan masyarakat untuk memastikan kesiapan fasilitas kesehatan dalam mengantisipasi dampak kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, Minggu (30/8/2026). Peninjauan dilakukan menyusul kondisi kabut asap di Kota Pontianak yang dalam beberapa hari terakhir berada pada kategori berbahaya.
Edi ingin memastikan rumah sakit, puskesmas, serta posko kesehatan siap memberikan layanan apabila terjadi peningkatan keluhan kesehatan masyarakat.
“Siang ini saya ke Rumah Sakit Kota Pontianak dan faskes memastikan kesiapan sarana kesehatan kita terhadap antisipasi dampak karhutla dan kabut asap yang melanda Kota Pontianak,” ujarnya.
Edi mengatakan, meski kondisi udara memburuk, pelayanan di rumah sakit masih terkendali. Dari hasil pemantauannya di Instalasi Gawat Darurat RSUD SSMA, terdapat beberapa pasien yang mendapatkan pelayanan, namun bukan disebabkan oleh ISPA.
“Tadi saya pastikan di rumah sakit, di IGD ada beberapa pasien, tetapi bukan disebabkan karena ISPA. Namun kita tetap harus siaga,” katanya.
Ia menegaskan, Pemerintah Kota Pontianak tetap mengantisipasi kemungkinan lonjakan pasien akibat dampak kabut asap. Fasilitas kesehatan diminta siap, termasuk ketersediaan oksigen bagi masyarakat yang mengalami sesak napas.
“Oksigen kita siap. Kita juga tetap mengantisipasi lonjakan apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” jelasnya.
Selain kesiapan rumah sakit dan puskesmas, Pemkot Pontianak juga membuka posko-posko layanan kesehatan. Salah satunya berada di PMI Kota Pontianak. Posko Segar tersebut disiapkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan maupun layanan oksigen.
Edi juga menyoroti peningkatan kasus ISPA yang sebelumnya dilaporkan Dinas Kesehatan Kota Pontianak. Kenaikan sekitar 10 persen menjadi perhatian pemerintah, sehingga langkah antisipasi terus diperkuat. Selain ISPA, Pemkot Pontianak juga mewaspadai potensi gangguan kesehatan lain, termasuk diare. Kondisi air yang terganggu akibat musim kemarau dan kualitas lingkungan yang menurun berisiko memengaruhi kesehatan masyarakat.
“Betul, kita juga antisipasi diare karena ini berkaitan dengan kondisi air,” kata Edi.
Wali Kota mengimbau masyarakat tetap menjaga kesehatan selama kabut asap masih berlangsung. Warga diminta mengurangi aktivitas luar ruangan, menggunakan masker apabila harus keluar rumah, memperbanyak minum air putih, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami sesak, batuk berat, demam, atau keluhan kesehatan lainnya.
“Yang penting kita tetap waspada. Pemerintah menyiapkan layanan, tetapi masyarakat juga harus menjaga diri dan mengurangi paparan asap,” pungkasnya. (prokopim)
Ribuan Umat Islam Salat Istisqa di Masjid Raya Mujahidin
Kasus ISPA di Pontianak Naik Akibat Kabut Asap
PONTIANAK – Ribuan umat Islam melaksanakan salat istisqa di halaman Masjid Raya Mujahidin, Sabtu (29/8/2026) pagi. Salat meminta hujan tersebut digelar sebagai ikhtiar bersama di tengah kemarau panjang dan kabut asap yang menyelimuti Kota Pontianak.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, salat istisqa diikuti masyarakat Kota Pontianak dari berbagai kalangan. Ia menyebut, kegiatan ini menjadi bentuk permohonan kepada Allah SWT agar hujan segera turun dan membawa keberkahan.
“Hari ini kita melaksanakan salat istisqa di halaman Masjid Raya Mujahidin, diikuti ribuan masyarakat Kota Pontianak. Kita meminta hujan yang berkah karena sudah dua bulan lebih tidak hujan,” ujarnya.
Edi menjelaskan, salat istisqa tersebut dilaksanakan bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI), Masjid Raya Mujahidin, Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta masyarakat. Ia berharap doa yang dipanjatkan bersama dapat dikabulkan dan membawa kebaikan bagi Kota Pontianak maupun Kalimantan Barat.
“Mudah-mudahan semua ampunan dan doa masyarakat Kota Pontianak serta Kalimantan Barat dikabulkan,” katanya.
Menurutnya, kondisi kemarau panjang telah berdampak pada kualitas udara di Kota Pontianak. Dalam empat hari terakhir, hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara berada pada kategori berbahaya akibat kabut asap. Edi mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Warga juga diminta mengurangi aktivitas luar ruangan apabila tidak mendesak, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, dan warga yang memiliki gangguan pernapasan.
“Kita mengimbau masyarakat menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar,” pesannya.
Untuk sektor pendidikan, Edi memastikan pembelajaran tatap muka masih dihentikan sementara hingga kondisi udara membaik. Kebijakan tersebut diambil untuk melindungi kesehatan peserta didik dari paparan asap.
“Untuk pendidikan masih kita liburkan sampai cuaca membaik. Kita tidak ingin asap mengganggu kesehatan anak-anak,” ujarnya.
Meski demikian, pelayanan Pemerintah Kota Pontianak tetap berjalan. Aktivitas perkantoran masih dilaksanakan dengan penyesuaian, terutama bagi pegawai yang mengalami gangguan kesehatan.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Saptiko menyebut, kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA mengalami peningkatan dalam sepekan terakhir. Kenaikan ini terjadi seiring memburuknya kualitas udara akibat kabut asap.
“Kasus ISPA kita hariannya sudah 300 lebih setiap hari. Biasanya kalau normal sekitar 100 sampai 200, sekarang sudah 300 lebih per hari,” ujarnya.
Saptiko memperkirakan kenaikan kasus ISPA harian mencapai sekitar 10 persen. Peningkatan tersebut mulai terlihat pada Agustus, bersamaan dengan semakin tebalnya kabut asap yang dirasakan masyarakat. Secara akumulatif, Dinas Kesehatan mencatat kasus ISPA sepanjang tahun ini sudah berada pada kisaran 36 ribu kasus. Namun, menurut Saptiko, kasus sebelum Agustus umumnya merupakan infeksi saluran pernapasan biasa, sementara peningkatan yang berkaitan dengan kabut asap mulai terlihat pada bulan ini.
“Sekarang sekitar 36 ribu, tetapi asap mulai Agustus. Jadi sebelum Agustus itu infeksi saluran pernapasan biasa,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat, Dinas Kesehatan melakukan sejumlah langkah. Pertama, mengedukasi masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar.
Langkah kedua, Dinas Kesehatan menyiapkan logistik untuk penanganan ISPA. Selain itu, logistik diare juga disiapkan karena kondisi air bersih turut berkurang dan berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat.
“Kita menyiapkan logistik untuk ISPA. Sekarang kita juga menyiapkan logistik diare karena kondisi air juga berkurang,” ujarnya.
Langkah ketiga, Dinas Kesehatan menyiapkan ruang oksigen di seluruh puskesmas, rumah sakit, dan Dinas Kesehatan. Layanan ini dapat dimanfaatkan masyarakat yang mengalami sesak napas akibat paparan asap.
“Bagi masyarakat yang mengalami sesak bisa datang untuk mendapatkan oksigen secara gratis,” jelasnya.
Saptiko mengatakan, kasus pneumonia dari kelompok ISPA masih tergolong kecil, yakni sekitar satu persen. Untuk kasus berat, pihaknya belum melihat lonjakan signifikan dan jumlah pasien yang membutuhkan perawatan masih relatif terkendali.
“Pneumonia dari ISPA sekitar satu persen. Yang terparah belum ada, yang perawatan juga kita pantau tidak terlalu banyak,” katanya.
Ia menambahkan, kasus ISPA paling banyak terjadi pada rentang usia 9 hingga 60 tahun. Karena itu, masyarakat diminta tetap menjaga daya tahan tubuh, memperbanyak minum air putih, mengurangi paparan asap, dan segera memeriksakan diri apabila mengalami batuk, sesak napas, atau keluhan pernapasan lainnya.
“Yang paling penting kurangi aktivitas di luar rumah dan gunakan masker. Kalau mengalami sesak, silakan datang ke puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan penanganan,” pungkasnya. (prokopim)
Wako Edi Ajak Umat Islam Ikuti Salat Istisqa Besok
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengajak umat Islam di Kota Pontianak untuk mengikuti salat istisqa dan doa bersama sebagai ikhtiar memohon hujan di tengah kemarau, kabut asap, dan menurunnya kualitas udara di Kalimantan Barat. Salat akan digelar Sabtu(29/8/2026) di Masjid Raya Mujahidin Pontianak pukul 07.00.
Edi mengatakan, kondisi cuaca panas dalam beberapa waktu terakhir berdampak pada meningkatnya potensi kebakaran, baik kebakaran lahan maupun bangunan. Karena itu, selain melakukan langkah teknis di lapangan, pemerintah juga mengajak masyarakat memperkuat ikhtiar melalui doa.
“Hari Sabtu, umat Islam kita imbau untuk melaksanakan salat istisqa. Jam 7 pagi di halaman Masjid Raya Mujahidin, kita bersama-sama berdoa meminta hujan,” ujarnya, Jumat (28/8/2026).
Ajakan tersebut sejalan dengan imbauan bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Barat, Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kalbar, Rektor IAIN Pontianak, Kakanwil Kementerian Agama Kalbar, dan Imam Besar Masjid Raya Mujahidin Pontianak.
“Ini ikhtiar dari pemerintah, dari MUI, dari Dewan Masjid Indonesia. Kita tidak hanya berupaya di lapangan, tetapi juga meminta doa agar segera diturunkan hujan yang berkah,” katanya.
Edi berharap hujan yang turun dapat membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan, menurunkan intensitas kabut asap, serta memperbaiki kualitas udara di Kalimantan Barat, termasuk Kota Pontianak. Saat ini suhu udara yang tinggi membuat potensi kebakaran semakin besar. Tidak hanya lahan gambut, kebakaran juga terjadi pada bangunan rumah dan ruko.
Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap jaringan listrik dan aktivitas yang berpotensi menimbulkan api. Menurutnya, sebagian besar kebakaran bangunan dipicu korsleting listrik, sementara cuaca panas membuat api lebih cepat membesar dan merambat.
“Saya mengimbau warga lebih waspada, terutama jaringan listrik. Kalau ditinggal, peralatan listrik harus dimatikan atau dicabut. Sebagian besar penyebabnya korsleting,” katanya.
Untuk kebakaran lahan, Edi menyebut BPBD Kota Pontianak telah melakukan patroli setiap hari. Petugas juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar.
“Kita setiap hari sudah patroli dan sosialisasi. Tapi yang paling penting, masyarakat saling menjaga, jangan membakar sampah. Di lahan gambut, api kecil kalau tidak benar-benar padam bisa melebar,” tegasnya.
Selain mengimbau salat istisqa, Pemkot Pontianak juga telah menerbitkan imbauan kepada seluruh pemangku kepentingan, rumah ibadah, kantor-kantor, dan masyarakat untuk mengurangi atau menunda kegiatan luar ruangan selama kondisi udara belum membaik. Sekolah juga telah mengikuti kebijakan pembelajaran daring selama kualitas udara tidak sehat. Masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah diminta menggunakan masker, terutama bagi kelompok yang rentan terhadap gangguan pernapasan.
“Puskesmas dan rumah sakit sudah saya perintahkan siaga 24 jam, terutama layanan kesehatan bagi warga yang terdampak,” katanya.
Selain itu, Posko Segar Karang Taruna di kawasan PMI juga disiapkan untuk membantu masyarakat. Posko tersebut menyediakan layanan oksigen gratis, pemeriksaan kesehatan, serta bantuan bagi petugas dan warga yang membutuhkan. (prokopim)
Sempat Menetap di Motor Air, Hasan Kini Miliki Tempat Tinggal
PONTIANAK – Hasan Karmana (60) kini bisa bernapas lega. Setelah rumah yang ditempatinya di tepian Kapuas roboh pada 11 Agustus 2026 lalu, warga kawasan Bansir Laut itu akhirnya mendapat tempat tinggal sementara di rumah milik Mustafa, di Gang Kuantan. Sebelumnya, Hasan sempat tinggal di motor air miliknya. Perahu itu ia gunakan untuk mencari nafkah dengan membawa orang memancing.
“Biasanya bawa orang mancing. Kadang ke Tayan,” ujar Hasan, Kamis (27/8/2026).
Saat rumahnya roboh, ia berada di dalam rumah bersama istrinya, Aisyah Putri (24), dan anak mereka, Raisya Haja (6). Dalam hitungan cepat, bangunan yang mereka tempati ambruk.
“Waktu itu kami di dalam rumah, tiga beranak. Saya tertimpa dari bagian dinding, tapi masih sempat menyelamatkan anak saya,” tuturnya.
Di tengah situasi panik, Hasan berusaha menyelamatkan keluarganya. Sebagian barang ikut tercebur dan terkena air. Peristiwa itu membuat keluarganya kehilangan tempat tinggal dan harus bertahan sementara di motor air.
Kepala Dinas Sosial Kota Pontianak M Akif mengatakan, setelah kejadian tersebut Pemerintah Kota Pontianak melalui Dinas Sosial bersama BPBD dan perangkat terkait langsung turun memberikan bantuan kepada Hasan dan keluarganya.
“Pemerintah Kota Pontianak sudah memberikan bantuan berupa sandang, makanan siap saji selama tujuh hari, dan kebutuhan lainnya,” ujarnya.
Akif menjelaskan, Pemkot Pontianak juga sempat menawarkan Hasan untuk menempati rusun. Namun, pada saat itu Hasan belum bersedia.
“Kita juga sudah menawarkan kepada Pak Hasan Karmana untuk menempati rusun, tetapi beliau belum bersedia waktu itu,” katanya.
Solusi kemudian datang setelah Mustafa menawarkan rumahnya di kawasan Gang Kuantan untuk ditempati Hasan bersama keluarga. Tawaran itu diterima Hasan, sehingga ia tidak lagi tinggal di motor air.
“Alhamdulillah, Pak Mustafa menawarkan rumahnya dan Pak Hasan juga sudah bersedia untuk tinggal di sana,” jelas Akif.
Menurut Akif, lokasi rumah tersebut masih memungkinkan Hasan tetap menjalankan aktivitasnya. Motor air yang biasa digunakan Hasan untuk bekerja juga dapat dibawa ke sekitar tempat tinggal barunya.
“Motor airnya juga bisa dibawa ke sana, sehingga tidak mengganggu aktivitas Pak Hasan untuk membawa orang memancing,” ujarnya.
Terkait kemungkinan pembangunan kembali rumah yang roboh, Akif menjelaskan bahwa Pemkot Pontianak menghadapi kendala administrasi dan kepemilikan lahan. Rumah tersebut berdiri di atas tanah milik orang lain, sementara pemilik lahan diketahui telah meninggal dunia.
“Kendalanya, rumah Pak Hasan yang roboh itu berada di tanah milik orang lain. Pemiliknya juga sudah meninggal, sehingga tidak bisa dibangun kembali begitu saja,” jelasnya.
Meski demikian, Pemkot Pontianak tetap berupaya mencari solusi terbaik agar warga terdampak tidak terlantar. Bantuan darurat telah diberikan, sementara dukungan tempat tinggal dapat terwujud berkat kepedulian warga.
“Yang penting hari ini Pak Hasan sudah bersedia menempati rumah yang ditawarkan. Mudah-mudahan ini bisa menjadi solusi sementara yang baik,” pungkasnya. (prokopim)