,
menampilkan: hasil
Satu Lahan Disegel, Pemkot Perkuat Penindakan Karhutla
PONTIANAK – Pemerintah Kota Pontianak memperketat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan meningkatkan patroli terpadu sekaligus menindak tegas pelaku pembakaran lahan. Langkah tersebut dilakukan menyusul meningkatnya potensi karhutla pada musim kemarau.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, patroli rutin terus dilakukan bersama TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, serta instansi terkait untuk mendeteksi dan memadamkan titik api sejak dini.
"Kita sudah melakukan operasi patroli pencegahan. Kita bentuk tim dan melakukan penegakan hukum apabila terjadi kesengajaan membakar lahan yang menyebabkan bencana asap," ujarnya usai memimpin Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla bersama Forkopimda, Selasa (28/7/2026).
Edi mengungkapkan, satu lokasi kebakaran lahan di kawasan Jalan Perdana Ujung telah ditindaklanjuti. Lahan tersebut disegel dan pemiliknya sedang diproses sesuai ketentuan yang berlaku.
"Sudah satu titik di Jalan Perdana Ujung. Lahannya akan kita segel sampai pemiliknya kita proses, termasuk dikenakan denda," tegasnya.
Kepala BPBD Kota Pontianak RM Nasir menjelaskan, karhutla tahun 2026 terjadi dalam dua periode, yakni Januari hingga Maret dan kembali muncul pada Juli.
Kondisi ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang umumnya hanya mengalami satu periode karhutla pada Agustus hingga September.
Menurut Nasir, hasil evaluasi penanganan awal tahun menjadi dasar perubahan strategi. Pemkot kini lebih mengedepankan langkah pencegahan, patroli intensif, edukasi kepada masyarakat, serta penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan.
"Hasil evaluasi Januari sampai Maret menjadi dasar kami. Sekarang kami mengutamakan pencegahan dan pengenaan sanksi apabila ada yang membakar lahan," katanya.
Ia menyebut upaya tersebut mulai menunjukkan hasil, terutama di Kecamatan Pontianak Utara yang sebelumnya menjadi wilayah dengan kebakaran cukup masif. Intensitas kebakaran di kawasan tersebut kini menurun seiring meningkatnya kesadaran masyarakat.
Sementara itu, potensi kebakaran masih menjadi perhatian di Kecamatan Pontianak Selatan dan Pontianak Tenggara.
“Berdasarkan hasil pemantauan, sebagian pemilik lahan di dua wilayah tersebut tidak berdomisili di lokasi sehingga pengawasannya menjadi lebih sulit," paparnya.
Meski demikian, BPBD memastikan titik api yang muncul dapat ditangani dengan cepat. Berdasarkan laporan BMKG, hingga saat ini Kota Pontianak masih tercatat nol hotspot karena setiap kemunculan api segera dipadamkan sebelum berkembang menjadi titik panas yang terdeteksi satelit.
Untuk memperkuat pengawasan menjelang puncak musim kemarau pada Agustus, BPBD mendirikan dua posko pemantauan. Posko pertama berada di kawasan Merindu Alam untuk mengawasi wilayah Pontianak Selatan dan Pontianak Tenggara. Posko kedua berada di Masjid Al Ihsan, Budi Utomo, untuk memantau wilayah Pontianak Utara.
“Selain itu, patroli darat juga diperkuat di kawasan rawan karhutla. BPBD akan terus berkoordinasi dengan camat dan lurah guna meningkatkan pengawasan terhadap lahan-lahan yang berpotensi terbakar, khususnya yang pemiliknya berada di luar wilayah,” tutup Nasir. (prokopim)
Wali Kota Desak Pertamina Segera Normalisasi Distribusi BBM
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono meminta PT Pertamina Patra Niaga segera menormalkan distribusi bahan bakar minyak (BBM) menyusul antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Kota Pontianak.
Menurutnya, kondisi tersebut telah mengganggu aktivitas masyarakat dan berpotensi memengaruhi kelancaran mobilitas maupun roda perekonomian apabila tidak segera diatasi.
"Saya meminta Pertamina bergerak cepat agar distribusi BBM kembali normal. Masyarakat tidak boleh terus menunggu dalam antrean panjang hanya untuk mendapatkan bahan bakar," ujar Edi, Senin (27/7/2026).
Ia mengatakan, Pemerintah Kota Pontianak menghormati penjelasan Pertamina mengenai kendala distribusi akibat kapal pengangkut BBM harus menunggu air pasang Sungai Kapuas. Namun, pelayanan kepada masyarakat harus menjadi prioritas dan kondisi tersebut perlu diantisipasi agar tidak terus berulang.
"Apapun kendalanya, masyarakat tidak boleh menjadi pihak yang menanggung dampaknya terlalu lama. Distribusi harus segera dipulihkan dan langkah antisipasi perlu disiapkan agar kejadian serupa tidak terulang," tegasnya.
Edi juga meminta Pertamina menambah pasokan ke SPBU yang terdampak serta menyampaikan informasi secara terbuka mengenai perkembangan distribusi dan estimasi waktu normalisasi.
"Kepastian informasi sangat penting agar masyarakat tetap tenang dan tidak terjadi kepanikan yang justru memperpanjang antrean di SPBU," katanya.
Pemerintah Kota Pontianak, lanjut Edi, akan terus berkoordinasi dengan Pertamina guna memantau perkembangan distribusi BBM hingga pasokan kembali normal sehingga aktivitas masyarakat dapat berjalan seperti biasa. (prokopim)
Setengah Abad Damkar Panca Bhakti, Perkuat Atasi Karhutla
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengapresiasi dedikasi Pemadam Kebakaran Swasta Panca Bhakti yang telah mengabdi selama setengah abad dalam membantu penanganan kebakaran dan berbagai aksi kemanusiaan di Kota Pontianak.
Apresiasi tersebut disampaikan saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun ke-50 Pemadam Kebakaran Swasta Panca Bakti di Posko Pemadaman Kebakaran Panca Bhakti, Jalan Letjen Suprapto, Minggu (26/7/2026).
Menurutnya, usia 50 tahun menjadi bukti komitmen dan konsistensi Panca Bhakti dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Keberadaan relawan yang siaga selama 24 jam menjadi wujud nyata semangat gotong royong yang telah mengakar di Kota Pontianak.
"Lima puluh tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Ini merupakan bukti nyata komitmen, dedikasi, dan semangat pengabdian yang telah diberikan kepada masyarakat Kota Pontianak," ujarnya.
Di tengah musim kemarau yang masih berlangsung, Edi mengajak seluruh organisasi pemadam kebakaran swasta untuk memperkuat kolaborasi dalam mengantisipasi kebakaran lahan.
Berdasarkan prediksi BMKG, hujan diperkirakan belum akan turun hingga September sehingga kewaspadaan perlu terus ditingkatkan.
Ia menyebut dampak asap dari kebakaran lahan mulai dirasakan masyarakat, baik yang berasal dari wilayah sekitar Kota Pontianak maupun dari kebakaran lahan yang terjadi di Pontianak Selatan pada malam sebelumnya.
"Oleh karena itu, saya berharap seluruh pemadam kebakaran swasta juga ikut andil bersama-sama memadamkan api agar tidak terjadi bencana asap yang semakin parah," katanya.
Selain ancaman kebakaran lahan, musim kemarau juga berdampak terhadap ketersediaan air bersih. Surutnya debit sungai dan intrusi air laut menyebabkan kadar garam di instalasi pengolahan air meningkat hingga mencapai 2.100 miligram per liter di titik tertentu.
"Kita berharap segera turun hujan agar dampaknya tidak semakin parah, terutama terhadap produksi dan suplai air bersih bagi masyarakat," ungkapnya.
Wali Kota mengingatkan dalam beberapa hari terakhir hampir setiap hari terjadi kebakaran bangunan yang sebagian besar dipicu cuaca panas dan gangguan instalasi listrik.
Ia mengimbau warga lebih waspada dengan memastikan instalasi listrik, kompor, dan sumber api lainnya digunakan secara aman untuk mencegah terjadinya kebakaran.
Memasuki usia emas ke-50, Edi berharap Panca Bhakti terus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperkuat profesionalisme, memperbarui sarana dan prasarana, serta mempererat koordinasi dengan BPBD, TNI, Polri, dan seluruh organisasi pemadam kebakaran swasta di Kota Pontianak.
"Sinergi yang kuat akan menjadi modal utama dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Semoga Panca Bhakti semakin maju, semakin solid, semakin profesional, dan terus menjadi organisasi yang dicintai masyarakat," tutupnya. (prokopim)
Wako Edi Ajak Swasta Kolaborasi Bantu Anak Penyintas Kanker, Thalasemia dan Jantung Bawaan
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengajak dunia usaha dan pihak swasta ikut berkolaborasi membantu anak-anak penyintas kanker, thalasemia, dan penyakit jantung bawaan. Dukungan bersama dibutuhkan untuk meringankan beban anak-anak dan keluarga yang menjalani proses pengobatan jangka panjang.
Pemerintah Kota Pontianak selama ini telah menganggarkan bantuan sosial bagi warga tidak mampu yang memerlukan dukungan setelah menjalani pengobatan. Bantuan tersebut juga dapat mencakup kebutuhan perjalanan untuk berobat ke luar daerah, seperti Jakarta. Pemkot juga memiliki skema Penerima Bantuan Iuran untuk jaminan BPJS Kesehatan.
“Selama ini Pemkot Pontianak sudah menganggarkan, selain BPJS, bantuan sosial untuk warga yang memerlukan bantuan setelah menjalankan pengobatan, termasuk ongkos perjalanan ke Jakarta bagi warga tidak mampu,” jelasnya dalam agenda Hari Anak Nasional bersama anak penyintas kanker, thalasemia, dan penyakit jantung bawaan di Aula PMI Kota Pontianak, Kamis (23/7/2026).
Meski demikian, Edi menilai peran pemerintah tidak cukup jika berjalan sendiri. Ia mengajak perusahaan, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat luas ikut mengambil bagian dalam membantu anak-anak penyintas serta keluarga mereka.
“Kita mengajak CSR dan dunia usaha juga ikut membantu. Karena dengan kolaborasi, kita bisa meringankan beban dari anak-anak ini,” ujar Edi yang juga Ketua PMI Kota Pontianak ini.
Ia berharap kegiatan Hari Anak Nasional di PMI Kota Pontianak tidak hanya menjadi peringatan seremonial, tetapi juga memperkuat jejaring kepedulian bagi anak-anak yang membutuhkan dukungan khusus. Masyarakat juga diajak memberi ruang yang aman, penuh kasih, dan mendukung tumbuh kembang anak, baik di rumah, sekolah, maupun ruang publik.
“Kita berkepentingan untuk terus berkolaborasi bagaimana anak-anak ini punya kesempatan untuk sehat dan berkembang, sehingga bisa membangun masa depan yang baik,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Edi Kamtono mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk relawan Sedaya Indonesia, yang selama ini membantu keluarga pasien. Menurutnya, banyak keluarga merasa bingung dan takut ketika harus membawa anak berobat ke Jakarta.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RSUD Soedarso Pontianak dr. Anindia Wardhani mengatakan kini semakin banyak anak dengan penyakit jantung bawaan yang mulai tersaring dan mendapatkan pemeriksaan di RSUD dr. Soedarso. Meski demikian, penanganannya masih memiliki keterbatasan. Terutama untuk tindakan operasi.
“Karena masih ada keterbatasan, kita belum bisa sampai operasi. Beberapa pasien masih kami kirim ke Jakarta untuk penanganan lebih lanjut,” katanya.
dr Anindia menyebut, dalam satu pekan dirinya bisa merujuk lima hingga enam pasien ke RS Jantung Harapan Kita. Saat ini, terdapat 29 pasien asal Kalimantan Barat yang masih berada di Jakarta, baik untuk menunggu operasi maupun menjalani pemeriksaan lanjutan.
Ia menambahkan, perkembangan layanan di RSUD dr. Soedarso sudah mulai menunjukkan kemajuan. Beberapa kasus penyakit jantung bawaan yang sederhana sudah dapat ditangani di Kalimantan Barat, termasuk pemasangan alat dan deteksi lebih awal.
“Alhamdulillah karena perkembangan di Soedarso, beberapa penyakit jantung bawaan yang sederhana sudah bisa kita tangani, terutama yang simple, karena sudah bisa pasang alat ataupun deteksi lebih awal,” ungkapnya.
Namun, untuk kasus yang kompleks, terutama yang membutuhkan bedah jantung anak, pasien masih harus bolak-balik ke RS Jantung Harapan Kita. Kondisi tersebut membuat pendampingan kepada keluarga menjadi sangat penting. (prokopim)