,
menampilkan: hasil
Jelang Evaluasi Kota Layak Anak, Pemkot Optimis Pontianak Raih Predikat Nindya
Rakor Persiapan Verifikasi Lapangan Tim Penilai KLA 2023
PONTIANAK – Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak tengah mematangkan persiapan verifikasi lapangan Kota Layak Anak (KLA) Tahun 2023 oleh tim penilai dari pemerintah pusat. Berkaca dari dua tahun sebelumnya, Kota Pontianak pernah menerima penghargaan KLA kategori Madya dan Pratama. Namun untuk tahun ini, Pemkot Pontianak optimis mencapai predikat Nindya. Hal itu diungkapkan Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan.
“Targetnya adalah kategori Nindya, kami optimis dengan upaya yang dilakukan selama ini serta kami sedang berbenah sebelum tim penilai pusat datang di beberapa lokasi yang sudah ditentukan,” ungkapnya usai memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Persiapan Verifikasi Lapangan KLA bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Pontianak di Ruang Rapat Kantor Wali Kota, Senin (5/6/2023).
Kesiapan verifikasi lapangan juga melibatkan perangkat daerah terkait. Bahasan meminta, persiapan penilaian tersebut tidak hanya dilakukan dalam rangka formalitas namun juga bertujuan untuk menghadirkan kesejahteraan bagi setiap anak di Kota Pontianak, sesuai dengan tujuan penilaian.
Selain perangkat daerah, ia turut mengimbau masyarakat untuk menaati aturan yang berlaku demi menjaga ketertiban bersama. Kesadaran secara kolektif menjadi dasar terwujudnya KLA di Pontianak. Segudang aturan sudah dibentuk, mulai dari Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak, Perda No 10 Tahun 2010 tentang Kawasan Tanpa Rokok, Perda Nomor 3 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Perda Nomor 12 Tahun 2009 tentang Penyelenggaran Pendidikan di Kota Pontianak, Perda Nomor 12 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Perda No 10 Tahun 2012 tentang Administrasi Kependudukan, Perda Nomor 16 Tahun 2020 tentang Perpustakaan serta Perda Nomor 1 Tahun 2022 tentang KLA.
“Tahun 2022 kemarin kami bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Pontianak sudah merembuk Perda ini,” jelasnya.
Beberapa indikator yang akan dinilai, imbuh Bahasan, diantaranya persentase laju pertumbuhan penduduk, indeks pembangunan gender serta tingkat capaian KLA. Pihaknya berkomitmen untuk terus mendukung terwujudnya KLA baik dalam tataran kebijakan, pelaksanaan dan pemantauan. Tidak dipungkiri, menurutnya, masih terdapat beberapa persoalan di lapangan terkait KLA ini, salah satunya ketertiban umum (tibum).
Sebagai contoh, memberi-beri uang kepada pengemis di traffic light. Bahasan menyebut, hampir semua kasus pengemis yang meminta-minta di persimpangan lampu merah memiliki motif buruk. Bahkan tidak jarang uang hasil meminta-minta digunakan sebagai pembayaran narkoba. Padahal sejauh ini, pihaknya selalu melakukan pembinaan terhadap anak-anak yang melakukan praktek mengemis di persimpangan lampu merah.
“Dan aturan tibum itu tidak dibuat begitu saja. Ada mekanismenya. Yang pasti peraturan itu ada karena aspirasi masyarakat itu sendiri. Masyarakat ingin persimpangan lampu merah tidak terganggu. Belum lagi efek secara psikologis anak-anak yang mengemis tidak baik,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Gugus Tugas KLA Kota Pontianak Hidayati menyampaikan, evaluasi KLA merupakan agenda rutin tahunan di seluruh Indonesia. Kedatangan tim penilai nantinya untuk membuktikan berkas administrasi. Pihaknya juga telah melakukan evaluasi secara mandiri. Dari hasil penilaian itu, didapat nilai 890.
Kendala saat mempersiapkan KLA sendiri diakuinya terdapat pada jenis soal dari pusat yang terus berubah. Belum lagi tingkat kerumitannya bertambah seiring tahun. Selain itu juga karena adanya pandemi covid di tahun-tahun sebelumnya.
“Evaluasi KLA berfokus ke dalam lima klaster yang mana setiap perangkat daerah bertanggung jawab. Ada klaster pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan seni budaya, hak sipil dan kebebasan, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, kesehatan dasar dan pendidikan serta perlindungan khusus,” tutupnya. (kominfo/prokopim)
Peringati World Bicycle Day, Edi Gowes Bareng Komunitas Sepeda
Kurangi Polusi, Edi Ajak Warga Gemar Bersepeda
PONTIANAK - Memperingati Hari Sepeda Sedunia atau World Bicycle Day (WBD) 2023, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono gowes bersama para komunitas sepeda, Minggu (4/6/2023). WBD yang diperingati setiap tanggal 3 Juni ini didedikasikan untuk mengapresiasi para pesepeda dalam mempromosikan gaya hidup sehat, memperjuangkan keberlanjutan lingkungan dan mendorong kesadaran akan manfaat sepeda bagi masyarakat di seluruh dunia.
Edi menyebut, WBD menjadi momentum penting dalam mempromosikan gaya hidup sehat. Dengan mengendarai sepeda secara teratur, selain dapat meningkatkan kesehatan dan kebugaran fisik, bersepeda juga baik untuk kesehatan mental karena dapat mengurangi stres dan meningkatkan suasana hati.
"Melalui Peringatan Hari Sepeda Dunia ini juga memberikan kesempatan untuk mengatasi masalah lalu lintas dan polusi udara. Dengan meningkatkan penggunaan sepeda sebagai alat transportasi, kita dapat mengurangi kemacetan, polusi udara dan emisi gas rumah kaca yang dapat merusak lingkungan," ungkapnya.
Peringatan Hari Sepeda Dunia juga menjadi momen untuk mengingatkan pentingnya infrastruktur yang mendukung penggunaan sepeda. Oleh sebab itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak berkomitmen dalam memfasilitasi para pesepeda dengan membangun jalur sepeda yang aman dan nyaman, serta mengadopsi kebijakan yang mendorong penggunaan sepeda sebagai mode transportasi.
"Hal ini sejalan dengan konsep Pontianak sebagai sport city atau kota yang bernuansa olahraga dilengkapi sarana dan prasarana olahraga yang memadai," tuturnya.
Hari Sepeda Dunia pertama kali diresmikan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2018, sebagai pengakuan terhadap peran sepeda dalam memajukan tujuan pembangunan berkelanjutan dan memerangi perubahan iklim. Sepeda tidak hanya merupakan alat transportasi yang murah dan ramah lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan yang luar biasa. (prokopim)
Wako Bilang Akurasi Data Kunci Sukses Program Bunda Genre
Penilaian Apresiasi Bunda Genre Kota Pontianak Tingkat Kalbar
PONTIANAK - Tim Penilai Apresiasi Bunda Generasi Berencana (Genre) Tingkat Provinsi Kalbar melakukan penilaian pada Bunda Genre Kota Pontianak. Penilaian ini bertujuan untuk menentukan Bunda Genre tingkat kabupaten/kota yang akan mendapat apresiasi Tingkat Provinsi Kalbar.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, Bunda Genre merupakan sebuah tugas mulia yang diemban dalam rangka pendampingan-pendampingan dan pembinaan kepada remaja dan generasi muda dalam merencanakan masa depan yang berkualitas. Selain itu, Bunda Genre juga berperan dalam mensosialisasikan peran penting dalam menjaga ketahanan keluarga. Menurutnya, Bunda Genre menjadi simbol dan panutan bagi remaja sehingga Bunda Genre harus mendengar, memperhatikan dan memotivasi semua lingkungan berkaitan dengan penanganan masalah ibu dan anak termasuk remaja.
"Saya berharap penilaian ini tidak hanya sekadar penyemangat atau motivasi untuk Bunda Genre dalam menjalankan peran tugas dan fungsinya, tetapi diharapkan Bunda Genre bisa terus berinovasi untuk percepatan mengatasi permasalahan-permasalahan yang menjadi fokus bangsa ini," katanya usai menerima Tim Penilai Apresiasi Bunda Genre Tingkat Provinsi Kalbar di Aula Rumah Jabatan Wali Kota, Minggu (4/6/2023).
Edi berpendapat, peran Bunda Genre sekarang ini memang menjadi salah satu fokus pemerintah untuk mengatasi permasalahan terutama di kalangan remaja untuk mencapai Indonesia Emas tahun 2045. Namun demikian, permasalahan remaja, balita dan ibu hamil menurutnya tidak hanya bisa dilaksanakan oleh pemerintah, tetapi harus berkolaborasi dengan seluruh stakeholder, terutama yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Kaitan dengan hal itu, TP-PKK memegang peranan penting karena kiprah PKK di lingkup masyarakat hingga ke tingkat kelurahan. Para kader PKK di tingkat kelurahan aktif dalam menjalankan perannya bersama komunitas dan posyandu yang ada di lingkungannya.
"Sehingga jangkauannya sangat dekat dan luas di masyarakat dan kalau gerakan ini dikolaborasikan secara optimal, saya yakin bisa mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi," ujar dia.
Beberapa program dalam menangani persoalan itu memang sudah berjalan baik. Hal terpenting yang menjadi kunci dari pelaksanaan program agar tepat dan jitu adalah dengan mengantongi data yang akurat. Selama ini, kata dia, kelemahan dalam penanganan berbagai persoalan dikarenakan kurang cerdas dalam mengolah dan menginventarisir data sehingga data yang ada di lapangan tidak akurat dan menyebabkan program yang dilaksanakan tidak maksimal. Contoh data sederhana, misalnya jumlah ibu hamil pada saat sekarang ini. Sudah semestinya ada kolaborasi dan manfaatkan teknologi digital untuk memaksimalkan pengelolaan data tersebut. Misalnya puskesmas, klinik bersalin, bahkan di tingkat kelurahan pada saat seseorang akan melangsungkan pernikahan, mereka meminta surat keterangan untuk menikah.
"Mulai sejak teradata jumlah pasangan yang menikah, artinya data itu sudah mulai dalam pantauan. Sehingga data ibu hamil, ibu melahirkan dan kelahiran bayi bisa terpantau. Yang terpenting adalah bagaimana mengatasi masalah-masalah kesehatan anak, misalnya gizi buruk dan stunting," ungkap Edi.
Kemudian, sambungnya lagi, tantangan yang dihadapi selanjutnya adalah fenomena digital terhadap perilaku remaja. Kalau melihat di televisi dan media massa lainnya, tidak sedikit kasus-kasus kriminal seperti pemerkosaan, narkoba dan sebagainya menimpa para remaja. Hal ini pula merupakan dampak dari bebasnya arus informasi. Misal saja kalau melihat trending topik di Twitter, hal yang acapkali menjadi topik pembicaraan adalah soal pornografi, kekerasan atau pembullyan, selebihnya masalah politik dan lainnya.
"Anak-anak kita terjebak dalam pesatnya arus informasi yang kian bebas. Ini juga salah satu pekerjaan rumah kita bersama untuk mengatasi permasalahan remaja," imbuhnya.
Sementara itu, Bunda Genre Kota Pontianak Yanieta Arbiastutie menerangkan, penilaian dirinya selaku Bunda Genre berkaitan dengan program-program dan aksi serta inovasi yang dilakukannya. Ada beberapa inovasi yang akan diluncurkannya bersama Forum Genre Kota Pontianak. Program Merayau salah satunya, yang mana program ini kolaborasi Bunda Genre bersama Forum Genre beserta dinas terkait dalam mengedukasi anak-anak remaja.
"Melalui program ini, kami bersama-sama akan turun langsung ke lapangan untuk memberikan sosialisasi menyasar anak-anak remaja yang nongkrong di taman-taman atau ruang publik lainnya sehingga kegiatan yang mereka lakukan bisa terarah dan bernilai positif," paparnya.
Inovasi lainnya, kata Yanieta, adalah dengan mengajak para remaja mendonorkan darahnya sehingga selain membantu sesama mereka juga menjadi lebih sehat.
"Dengan mengajak mereka berdonor darah, kita ingin membangkitkan rasa peduli dengan sesama sekaligus menjadikan donor darah sebagai bagian dari gaya hidup remaja," tuturnya.
Selain itu, Bunda Genre juga akan melakukan nota kesepahaman (MoU) dengan beberapa instansi untuk mengapresiasi Duta Genre Kota Pontianak sehingga mereka mendapat apresiasi dari Bunda Genre dan Pemerintah Kota Pontianak. Ia menilai Duta Genre Kota Pontianak cukup aktif dalam menjalankan perannya sebagai leader atau motor bagi remaja-remaja.
"Duta Genre ini diharapkan mampu menggerakkan para remaja karena diyakini para remaja lebih memahami teman sebayanya," sebutnya.
Tim Penilai Apresiasi Bunda Genre Tingkat Provinsi Kalbar Rini Setiawati menerangkan, hari ini pihaknya melakukan penilaian untuk apresiasi Bunda Genre Tingkat Provinsi Kalbar. Ada enam nominasi Bunda Genre Tingkat Provinsi Kalbar yakni Bunda Genre Kota Pontianak, Kota Singkawang, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Sambas, Kabupaten Sintang dan Kabupaten Sanggau.
"Aspek-aspek penilaian banyak, terutama program kerja Bunda Genre. Bagaimana Bunda Genre mensinergikan beberapa kegiatan karena Bunda Genre juga sebagai Ketua TP-PKK, Bunda PAUD, Bunda Literasi dan lain sebagainya," terangnya.
Rini menyebut, banyak program-program tersebut yang bisa dikolaborasikan. Selain itu, Bunda Genre juga diharapkan mampu memperluas jaringan, misalnya kerja sama dengan perangkat daerah atau instansi lainnya.
"Dengan menggandeng stakeholder dan pemangku kepentingan, peran Bunda Genre dalam menjalankan programnya akan lebih maksimal," jelasnya.
Berkaitan dengan Duta Genre, menurut Rini, mereka harus menguasai dan memahami betul apa yang menjadi tugas dan fungsinya menjalankan program Genre. Secara umum, dia bilang, banyak yang sudah dilakukan Duta Genre, dari mengedukasi anak-anak remaja, orang tua kemudian juga lingkungan keluarga dan masyarakat.
"Setiap Genre di masing-masing daerah memiliki program unggulan," tutupnya. (prokopim)
Edi Sebut Radio Mampu Beradaptasi dengan Kemajuan Teknologi
Wali Kota Hadiri Temu Keluarga Pendengar Radio dari Berbagai Negara
PONTIANAK - Berbagai stasiun radio dari berbagai negara bertemu dalam agenda tahunan Temu Keluarga Pendengar Radio (TKPR) ke-7 di Hotel 95 Pontianak, Jumat (2/6/2023). Beberapa stasiun radio terkemuka antara lain RRI, Radio Taiwan International (RTI), Voice of America (VOA), Voice of Vietnam (VOV), Adventist World Radio (AWR), BBC Indonesia, Sonora, Volare, Radio Mujahidin dan stasiun-stasiun radio lainnya, bertemu dengan para pendengarnya di Pontianak. Sepanjang perhelatan TKPR, ini merupakan pertama kalinya digelar di luar Pulau Jawa.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyambut positif digelarnya TKPR ke-7 di Kota Pontianak mulai tanggal 2 hingga 4 Juni 2023 karena lewat wadah ini bisa mempertemukan pendengar dan insan radio seluruh dunia. Sebagai tuan rumah, perhelatan yang dihadiri stasiun radio dari berbagai negara ini dinilainya memberikan dampak luar biasa bagi Kota Pontianak, baik dari sisi ekonomi maupun sektor pariwisata.
"Saya mengucapkan selamat datang di Kota Pontianak kepada para peserta TKPR ke-7, selamat menikmati suasana Kota Pontianak, di sini banyak warung kopi dan kuliner yang bisa dinikmati," ujarnya di hadapan hampir 300 peserta TKPR.
Berbicara soal radio, lanjut Edi, peran media dalam format audio memang sudah ada sejak lama. Kendati demikian, perkembangan teknologi tidak mengurangi perannya. Seiring dengan kemajuan digital, banyak stasiun radio yang menawarkan streaming online, podcast, dan aplikasi ponsel untuk memastikan aksesibilitas yang lebih luas bagi pendengar di mana saja.
"Tentunya ini memperluas jangkauan dan keberagaman konten yang dapat disajikan oleh radio sebagai media informasi dan hiburan. Artinya, radio telah mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi," ungkapnya.
Bahkan, kemajuan teknologi yang sedang tren, salah satunya Artificial Intelligence (AI) sudah banyak dimanfaatkan di Amerika sehingga penyiar-penyiar radio tidak sedikit yang menggunakan AI. Meski demikian, Edi meyakini eksistensi radio tidak bakal punah. Sebab menurutnya, radio memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan dengan media informasi lainnya. Ada segmentasi pendengar radio yang masih fanatik dan hingga kini memanfaatkan radio sebagai media dalam memperoleh informasi.
"Misalnya ingin mendengar berita terkini, hiburan lewat pemutaran lagu, konten budaya dan sebagainya, radio masih memegang peranan penting," ungkapnya.
Edi berkata, secara keseluruhan, radio tetap memainkan peran penting sebagai media informasi dan hiburan. Kecepatan dalam menyampaikan berita, informasi lokal yang berharga, berbagai program hiburan, dan kemampuan untuk memperkenalkan pendengar menjadikan radio diminati oleh pendengarnya. Sebagai media informasi, radio memiliki kelebihan dalam menyampaikan berita secara cepat dan real-time. Stasiun radio berita dapat memberikan laporan langsung tentang peristiwa terkini, termasuk kecelakaan lalu lintas, cuaca, berita politik, dan peristiwa penting lainnya. Dalam situasi darurat, radio sering menjadi sumber informasi utama yang dapat diakses oleh masyarakat secara luas.
"Kecepatan dan kemudahan akses inilah yang membuat radio tetap relevan dalam menyediakan informasi yang penting dan mendesak," imbuhnya.
Selain itu, sambungnya, radio juga menjadi sarana untuk memperkenalkan pendengar pada berbagai budaya, musik, dan informasi baru. Beberapa stasiun radio memiliki program khusus yang mengulas berbagai jenis musik dari seluruh dunia, menyajikan pengetahuan dan apresiasi bagi pendengar tentang keanekaragaman budaya musik.
"Program-program semacam ini membantu memperluas wawasan pendengar dan memberikan pengalaman mendengarkan yang berbeda-beda," kata Edi.
Chairwoman RTI Cheryl Lai mengungkapkan terima kasih kepada Wali Kota Pontianak atas sambutan hangatnya dalam TKPR ke-7. Dukungan dari pemerintah menjadi hal yang penting untuk eksistensi radio bagi para pendengarnya. Pihaknya juga melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Radio Volare (radio lokal Pontianak).
"Diharapkan ke depan setidaknya satu kali dalam satu kuartal, ada kerja sama produksi dan penyiaran program acara berdurasi 30 menit," ucapnya dalam bahasa Mandarin yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Dirinya mengapresiasi penyambutan Kota Pontianak selaku tuan rumah TKPR ke-7 yang terselenggara berkat kerja sama dengan Borneo Listeners Club (BLC). Di mata Cheryl, Kota Pontianak merupakan sebuah kota yang menarik.
"Selain keramahtamahan warganya, kota ini juga kaya akan kulinernya," pungkasnya. (prokopim)