,
menampilkan: hasil
Dorong BP4 Jadi Garda Terdepan Ketahanan Keluarga
PONTIANAK – Sekretaris Daerah Kota Pontianak Amirullah mendorong Badan Penasihatan, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) untuk memperkuat perannya sebagai garda terdepan dalam menjaga ketahanan keluarga. Menurutnya, keluarga merupakan unit terkecil dalam pembangunan bangsa. Karena itu, BP4 harus hadir sebagai benteng ketahanan keluarga, terutama dalam memberikan edukasi pranikah, pendampingan, serta penasihatan bagi calon pengantin maupun pasangan yang sedang menghadapi persoalan rumah tangga.
“BP4 harus hadir sebagai garda terdepan dalam menekan angka perceraian dan memberikan edukasi pranikah yang prinsip bagi calon pengantin di Kota Pontianak,” katanya usai Pelantikan Pengurus BP4 Kota Pontianak dan BP4 Kecamatan se Kota Pontianak Masa Bakti Tahun 2026-2031 di Aula Gedung Eks Bank Indonesia, Selasa (28/4/2026).
Amirullah juga menekankan pentingnya adaptasi digital dalam pelayanan BP4. Ia berharap BP4 tidak hanya menggunakan pendekatan konvensional, tetapi juga memanfaatkan teknologi informasi untuk menjangkau generasi muda, terutama generasi milenial dan Gen Z.
“Manfaatkan teknologi informasi untuk memberikan konsultasi atau edukasi kepada generasi muda agar mereka memiliki kesiapan mental dan finansial sebelum melangkah ke jenjang pernikahan,” jelasnya.
Selain itu, BP4 di tingkat kecamatan diminta aktif berkolaborasi dengan kecamatan dan Kantor Urusan Agama (KUA) setempat. Sinergi lintas sektor diperlukan agar program pembinaan keluarga dapat selaras dengan program Pemerintah Kota Pontianak, termasuk dalam penanganan isu sosial seperti stunting dan perlindungan anak.
Sebagai Sekda, Amirullah juga berbagi pengalamannya dalam menangani persoalan disiplin pegawai, termasuk permohonan izin perceraian ASN. Ia menyebut, salah satu tahapan yang harus dilalui adalah penasihatan melalui BP4.
“Harusnya pernikahan itu lestari, tidak bercerai. Saya berharap ketika melewati BP4, ada pasangan yang mengurungkan niatnya untuk bercerai. Itu menjadi salah satu bentuk keberhasilan BP4,” ujarnya.
Ia menegaskan, perceraian tidak hanya berdampak pada pasangan suami istri, tetapi juga pada anak dan keluarga besar. Karena itu, peran BP4 dalam memberikan nasihat, pembinaan, dan mediasi sangat penting agar keluarga tetap utuh dan harmonis.
“Tidak ada bekas anak, tidak ada bekas bapak, tidak ada bekas ibu. Yang ada hanya mantan suami atau mantan istri. Karena itu, dampak perceraian harus benar-benar dipikirkan,” pungkasnya. (prokopim)
Hari Kartini, PKK Pontianak Gelar Aksi Santuni Lansia
Aksi PKK Pontianak Berbagi lewat Program SEPEDA PKK
PONTIANAK – Di momen Hari Kartini tahun ini, Tim Penggerak (TP) PKK Kota Pontianak memperingatinya dengan cara berbeda. Tanpa acara seremonial, para kader TP PKK Kota Pontianak turun langsung ke masyarakat dengan menggelar aksi sosial, mulai dari senam sehat bersama, pemeriksaan kesehatan gratis, pelayanan Keluarga Berencana serta aksi berbagi bagi lansia tangguh dan mandiri di enam kecamatan se-Kota Pontianak.
Ketua TP PKK Kota Pontianak Yanieta Arbiastutie menerangkan, tujuan digelarnya kegiatan ini sebagai aksi nyata yang langsung menyentuh masyarakat. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Setia Peduli Daerah bersama PKK (SEPEDA PKK).
“Dalam peringatan Hari Kartini tahun 2026 ini, kami meniadakan kegiatan seremonial. Sebaliknya, kami melaksanakan kegiatan yang langsung menyentuh masyarakat, di antaranya melalui bakti sosial dengan turun langsung dan melibatkan para lansia yang tangguh dan mandiri, serta memberikan bantuan sembako kepada mereka,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).
Sebanyak 60 lansia menerima bantuan sembako untuk tahap pertama. Bantuan ini diberikan kepada para lansia untuk meringankan beban mereka. Yanieta berharap jumlah penerima manfaat dapat terus bertambah.
“Kami berharap para lansia di Kota Pontianak dapat terus menjadi lansia yang mandiri, tangguh, dan sehat,” harapnya.
Momentum Hari Kartini, lanjut Yanieta, menjadi pengingat bahwa perempuan di Kota Pontianak harus terus menjadi perempuan yang mandiri dan menjadi penggerak.
“Perempuan merupakan pilar keluarga dan garda terdepan. Saat ini adalah era di mana perempuan harus bergerak, inovatif, kreatif, dan penuh semangat. Tidak ada lagi anggapan bahwa perempuan hanya berperan sebagai pendamping. Semua harus aktif, berkarya, dan berkontribusi,” tuturnya.
Salah satu lansia penerima bantuan, Bahtiah (64) menyampaikan ucapan syukur dan terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh TP PKK Kota Pontianak. Bantuan ini baginya sangat bermanfaat untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
“Terima kasih, mudah-mudahan yang memberikan bantuan selalu sehat,” pungkasnya. (humas PKK 2026)
Aila Afifah Asal Pontianak Jadi Calhaj Termuda di Indonesia
PONTIANAK - Aila Afifah (13 tahun) asal Kota Pontianak menjadi jemaah calon haji termuda di Indonesia. Siswa kelas VI SD LKIA Pontianak Selatan ini akan berangkat ibadah haji bersama ayah dan bibinya.
"Saya senang bisa doakan ibu di sana," ujarnya saat Manasik Haji Terintegrasi Kota Pontianak di Aula Masjid Raya Mujahidin, Selasa (14/4/2026) pagi.
Aila berangkat menggantikan ibundanya yang meninggal beberapa waktu lalu. Bersama 1.508 jemaah calon haji lain, ia akan bertolak ke tanah suci di awal Mei. Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya yang hanya di angka 619 jemaah.
“Ini luar biasa. Tahun ini jemaah haji Kota Pontianak mencapai 1.508 orang. Yang perempuan bahkan lebih banyak dari laki-laki,” kata Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono saat membuka manasik haji.
Jika dirinci, dari jumlah tersebut, 843 orang merupakan perempuan dan 665 orang laki-laki. Jemaah tertua tahun ini berusia 83 tahun, sedangkan yang termuda berusia 13 tahun.
"Ini menunjukkan antusiasme masyarakat Pontianak untuk menunaikan rukun Islam kelima sangat tinggi," sebutnya.
Kepada para jemaah, Wali Kota berpesan untuk tetap optimis, menjaga kesehatan, dan memperkuat mental selama menjalankan rangkaian ibadah haji. Apalagi jemaah telah melalui proses panjang. Dimulai dari niat, pendaftaran, hingga berbagai tahapan persiapan sebelum puncak ibadah di Arafah. Karena itu, para jemaah diminta meyakini bahwa kesempatan menunaikan ibadah haji adalah anugerah besar dari Allah SWT.
“Bapak-Ibu harus optimis. Dengan keyakinan itu, kita percaya apa yang kita lakukan diridai Allah SWT. Ini adalah proses panjang menuju puncaknya nanti di wukuf di Arafah,” imbuhnya.
Ia mengatakan tidak semua orang memperoleh kesempatan yang sama untuk berangkat haji pada waktu yang sama. Karena itu, para jemaah diminta mensyukuri kesempatan tersebut dan menyiapkan diri sebaik mungkin, baik secara fisik maupun spiritual. Ia menekankan bahwa haji bukan sekadar ritual, melainkan perjalanan menata hati yang membutuhkan kesabaran, kekuatan mental, serta kondisi fisik yang prima.
“Yang paling penting adalah menjaga kesehatan, karena puncaknya nanti di Arafah. Selain itu, mental juga harus kuat dan sabar, karena jutaan orang dari seluruh dunia berkumpul di sana dengan cuaca yang panas,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan para jemaah untuk mengikuti seluruh rangkaian pembinaan dan program dari Kementerian Agama, baik di tingkat kota maupun provinsi, agar perjalanan ibadah berjalan lancar hingga kembali ke tanah air. Menutup sambutannya, Wali Kota meminta para jemaah untuk turut mendoakan Kota Pontianak agar senantiasa diberikan keberkahan, kedamaian, dan kemajuan.
“Jangan lupa doakan Kota Pontianak juga. Mudah-mudahan seluruh jemaah diberikan kesehatan, kelancaran, dan pulang menjadi haji yang mabrur,” tutupnya.
Kepala Kementerian Haji dan Umrah Perwakilan Kota Pontianak Muslimin menjelaskan jumlah jemaah tahun ini memang meningkat dari tahun sebelumnya. Kuota jemaah tersebut telah dibagi untuk masing-masing kabupaten kota sejak awal penetapan.
"Biasa kami kendala paspor jemaah, tapi tahun ini tidak ada kendala hingga tenggat waktunya," pungkasnya. (prokopim)
63 Pahlawan Kemanusiaan Terima Penghargaan dari PMI Pontianak
PONTIANAK – Sebanyak 63 pahlawan kemanusiaan yang telah lebih dari 100 kali berdonor menerima penghargaan dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Pontianak. Mereka diganjar pin emas sebagai tanda perhormatan dan kenang-kenangan. Tentu hal itu tak setimpal dengan apa yang telah mereka lakukan. Sebab, untuk bisa mencapai 100 kali donor, gaya hidup sehat itu pasti telah bertahan antara 25 sampai 30 tahun.
Salah seorang pendonor, Zulfydar Zaidar bercerita ia mulai berdonor ketika kuliah di Jakarta pada tahun 1990-an. Di tengah kehidupan mahasiswa yang serba terbatas, ia menghadapi situasi yang membekas kuat dalam ingatan; seorang seniornya membutuhkan bantuan karena istrinya sakit dan memerlukan darah.
“Kalau saya boleh cerita, saya mulai donor karena ada orang yang membutuhkan donor,” ujarnya dalam Penyerahan Penghargaan dan Halalbihalal PMI Kota Pontianak di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Senin (13/4/2026).
Ia mengaku, pertama kali donor darah bukanlah hal yang mudah. Ada rasa takut, ngeri. Namun di balik rasa takut itu, ia justru menemukan pertanyaan yang lebih besar dalam dirinya. Bagaimana membantu orang lain di saat dirinya sendiri juga hidup pas-pasan.
Saat itu, hidupnya sebagai mahasiswa di Jakarta jauh dari kata mewah. Kiriman dari orang tua, hanya sekitar Rp400 ribu per bulan. Ia harus kuliah pagi, lalu bekerja di malam hari demi bertahan hidup. Dalam keterbatasan itulah, ia menyadari bahwa membantu orang tidak selalu harus dengan uang.
Donor darah baginya berubah makna. Ia melihat bahwa darah yang mengalir dalam tubuh setiap orang adalah pemberian dari orang tua, hasil dari kasih sayang, pengasuhan, dan rezeki yang selama ini diterima. Ketika darah itu didonorkan, ia bukan hanya berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan orang lain yang sedang diperjuangkan.
“Kalau kita bicara amal jariyah, ini mengalir terus, tidak putus-putusnya. Membantu orang tidak putus-putusnya,” ucap anggota DPRD Provinsi Kalbar tersebut.
Karena itulah, Zulfydar terus menjaga semangat itu hingga hari ini. Bukan hanya karena donor bermanfaat bagi kesehatan pendonor, tetapi juga karena di ujung sana selalu ada orang yang membutuhkan, orang yang mungkin sedang menunggu kesempatan untuk hidup lebih lama.
Cerita Zulfidar selaras dengan apa yang disampaikan Wali Kota Pontianak, yang juga Ketua PMI Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono. Menurutnya, para pendonor adalah pahlawan kemanusiaan. Sebab yang mereka lakukan merupakan bentuk aksi nyata penyelamatan jiwa.
"Secara akumulatif, seorang pendonor 100 kali telah menyumbang sekitar 30 liter darah. Diperkirakan telah menolong dan menyelamatkan 100 hingga 200 jiwa," katanya.
Saat ini, kebutuhan darah di Kota Pontianak masih tergolong tinggi. Dalam sehari, kebutuhan darah rata-rata mencapai 100 hingga 150 kantong, sementara ketersediaan rutin yang dapat dipenuhi berkisar antara 70 sampai 100 kantong per hari. Jumlah pendonornya di tahun 2025 mencapai 21.644 orang, dengan 86,3 persennya merupakan pendonor sukarela, dan 13,6 persennya pendonor pengganti.
"Kekurangan stok darah selama ini diatasi dengan menghubungi para pendonor yang datanya sudah dimiliki PMI, termasuk sukarelawan maupun keluarga pasien yang sedang membutuhkan darah dalam kondisi mendesak," sebutnya.
Ia mengakui PMI Kota Pontianak masih memiliki berbagai keterbatasan dalam memberikan pelayanan, baik dari sisi teknis maupun administrasi. Karena itu, pihaknya terus berupaya melakukan pembenahan, termasuk memenuhi sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
Salah satu hal yang tengah diupayakan PMI, adalah penyediaan lahan untuk pembangunan laboratorium tersendiri. Hal itu penting karena standar akreditasi dari pemerintah pusat mensyaratkan agar pelayanan donor darah dipisahkan dengan laboratorium.
“Nah ini sedang kita usahakan ke depan untuk kita bangun laboratorium tersendiri,” jelasnya.
Edi juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada para pendonor yang telah berkontribusi bagi kemanusiaan. Ia menilai dedikasi mereka tidak dapat dibalas dengan kata-kata.
“Saya tidak bisa lagi berkata-kata membalas Bapak-Ibu atas jasa kemanusiaan ini. Tidak ada kata-kata yang bisa diucapkan selain mudah-mudahan Bapak-Ibu diberikan kesehatan dan pahala yang setimpal,” ungkapnya.
Edi menambahkan, penghargaan berupa pin emas yang diberikan kepada pendonor 100 kali menjadi simbol ucapan terima kasih dari warga yang pernah tertolong oleh darah yang didonorkan. Ia menilai setiap tetes darah yang disumbangkan telah membantu menyelamatkan nyawa banyak orang, baik pasien operasi, korban kecelakaan, maupun mereka yang membutuhkan penanganan cepat.
“Pin emas ini membuktikan bahwa saya mewakili warga yang telah mendapatkan darah dari Bapak-Ibu selama ini, yang telah terselamatkan. Mudah-mudahan ini menjadi amal jariah yang terus mengalir sepanjang masa,” pungkasnya. (prokopim)