,
menampilkan: hasil
Delegasi Pontianak Hadiri Kongres Jaringan Kota Pusaka Indonesia 2024
Komitmen Wujudkan Kota Pusaka Pontianak
BANJARMASIN - Degelasi Pemerintah Kota Pontianak hadir dalam Kongres Jaringan Kota Pusaka Indonesia 2024 di Banjarmasin 18-22 September. Kehadiran tersebut merupakan salah satu bentuk komitmen Pemkot dalam mewujudkan Kota Pusaka Pontianak.
Degelasi Pemkot Pontianak dipimpin Staf Ahli Pemerintahan dan SDM Kota Pontianak Rusdalita. Ia datang bersama perwakilan Bappeda, Diskumdag, dan Disdikbud. Delegasi Pontianak juga meramaikan pameran unggulan daerah dengan produk andalan Dekranasda Pontianak, dan karnaval dan pagelaran seni lewat tarian Kidangna dan Tidayu.
Rusdalita mengatakan tema kongres tahun ini selaras dengan upaya yang tengah ditempuh Pemkot. Bagaimana menjaga, melestarikan dan mengoptimalkan warisan budaya dalam membangun kota pusaka yang berkelanjutan. Wawasan yang didapat dalam kongres, menjadi tambahan bahan untuk penerapan di Pontianak.
"Ini menjadi bekal kita untuk diimplementasikan di Pontianak," ujarnya.
Saat ini, kajian awal Kota Pusaka Pontianak telah diselesaikan Bappeda. Rencana lokasi dan tahapan program ke depan sudah ditetapkan. Hal itu pun disampaikan dalam kongres.
Kabid Litbang Bappeda Pontianak Eko Prihandono menjelaskan nantinya akan dibuat peraturan daerah untuk melindungi cagar budaya dan potensi-potensi kota pusaka di Pontianak. Aturan tersebut, akan diatur tata cara pengelolaan bangunan. Bangunan tetap bisa dialihfungsi bahkan diperjualbelikan sepanjang tidak mengubah bentuk utamanya.
"Justru mereka yang memiliki bangunan di kawasan kota pusaka, akan mendapatkan sejumlah insentif menguntungkan. Utamanya, Pemkot akan mengedepankan infrastruktur penunjang," jelasnya.
Kajian itu telah diselesaikan tahun ini, dan akan dimasukkan dalam dokumen RPJMD Kota Pontianak dan diturunkan dalam Rencana Strategis Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.
"Dalam prosesnya juga akan disiapkan dokumen pendukung, seperti proposal ke pemerintah pusat, rencana aksi, rencana tata bangunan dan lingkungan, hingga Detail Engineering Design," katanya. (*)
Perayaan Hari Kue Bulan, Cermin Kekayaan Budaya dan Keharmonisan
PONTIANAK - Perayaan Hari Kue Bulan menjadi tradisi ritual masyarakat Tionghoa setiap tanggal 15 bulan ke delapan menurut perhitungan kalender lunar Cina. Untuk memeriahkan perayaan Kue Bulan, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kota Pontianak menggelar perayaan Hari Kue Bulan 2575 di Halaman Hotel Harris Pontianak, Minggu (15/9/2024) malam.
Penjabat (Pj) Wali Kota Pontianak Ani Sofian mengapresiasi digelarnya Perayaan Hari Kue Bulan di Kota Pontianak. Perayaan ini merupakan bentuk pelestarian tradisi budaya di tengah masyarakat Pontianak yang multikultural dan multietnis. Selain itu juga menjadi simbol persatuan dan keharmonisan antar etnis yang telah lama terjalin di Kota Pontianak.
"Hari Kue Bulan merupakan momen istimewa yang mencerminkan kekayaan budaya dan kerukunan masyarakat Kota Pontianak," ujarnya usai membuka perayaan Hari Kue Bulan 2575.
Pj Wali Kota menekankan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak akan terus mendukung pelaksanaan acara-acara budaya seperti ini, yang menurutnya penting untuk memperkuat identitas Pontianak sebagai kota yang toleran dan inklusif.
"Perayaan ini juga merupakan kesempatan baik untuk saling berbagi dan mempererat tali persaudaraan," tambahnya.
Ia berharap agar MABT rutin menggelar kegiatan-kegiatan budaya seperti ini sebagai bentuk pelestarian. Terlebih warga Pontianak yang heterogen menjadikan kota ini kaya akan berbagai khasanah budaya dan adat istiadat. Oleh sebab itu, Pemkot Pontianak memberikan ruang bagi masyarakat untuk melestarikan adat budayanya masing-masing.
"Kita ingin Pontianak dikenal sebagai kota yang berbudaya, kreatif sehingga bisa meningkatkan ekonomi kreatif," tuturnya.
Sebagai salah satu kue khas warga Tionghoa, Ani Sofian menilai Kue Bulan bisa menjadi salah satu oleh-oleh kuliner bagi tamu-tamu yang berkunjung ke Kota Pontianak.
“Apalagi jika dikemas dengan packaging yang menarik dengan bentuk, rasa dan kemasan yang variatif,” sebutnya.
Kue bulan merupakan penganan khas masyarakat Tionghoa. Banyak kisah yang melatarbelakangi dirayakannya Festival Kue Bulan ini. Terlepas dari berbagai historis dan legendanya, kue bulan yang berbentuk bundar ini punya berbagai rasa yang beragam, ada yang manis maupun asin. Demikian pula isi dari kue bulan ini, mulai dari kuning telur, kacang merah, kacang hijau, buah-buahan dan sebagainya. (prokopim)
Bangun Kawasan Kota Pusaka Pontianak
PONTIANAK - Bappeda Pontianak tengah menggagas kawasan Kota Pusaka Pontianak. Kajian awal telah dilakukan untuk menentukan lokasi dan rencana tahapan program ke depan. Kawasan ini diharap tidak hanya untuk menjaga bangunan pusaka tapi juga berdampak pada perekonomian warga.
Dari hasil kajian, lokasinya berada di kawasan Istana Kadriah dan Masjid Jami di Pontianak Timur, dan kawasan Tanah Seribu yang merupakan awal pusat kota di masa kolonial Belanda. Namun kawasan akan dipersempit sesuai lingkup bangunan.
"Nantinya akan dibuat peraturan daerah untuk melindungi cagar budaya dan potensi-potensi kota pusaka," kata Sekretaris Bappeda Pontianak, Syamsul Akbar, Senin (9/9/2024).
Di dalam aturan tersebut, akan diatur tata cara pengelolaan bangunan. Bangunan tetap bisa dialihfungsi bahkan diperjualbelikan sepanjang tidak mengubah bentuk utamanya. Justru mereka yang memiliki bangunan di kawasan kota pusaka, akan mendapatkan sejumlah insentif menguntungkan. Utamanya, Pemkot akan mengedepankan infrastruktur penunjang.
Dia mencontohkan kawasan Kayutangan di Malang. Dulunya meski dekat dengan alun-alun kota, daerah itu sepi. Namun intervensi kota pusaka membuatnya kembali hidup. Selain mempercantik kawasan dengan tetap menjaga keaslian bangunan, di sekitar lokasi muncul berbagai usaha yang menghidupi warga setempat.
Sama seperti ketika Pemkot Pontianak menjalankan program Kota Baru ketika menata tepian Kapuas dengan pembangunan waterfront. Tidak hanya mengembalikan wajah kota ke sungai, tapi juga memberikan efek ekonomi ke masyarakat sekitar.
"Rencana ini akan masuk dalam RPJMD Kota Pontianak dan diturunkan dalam Rencana Strategis Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, sehingga benar-benar terjaga," sebutnya.
Program Kota Pusaka Pontianak ini rencananya akan diusulkan ke Pemerintah Pusat. Prosesnya pun masih panjang, namun tetap akan jadi fokus pembangunan ke depan. Saat ini Pemkot fokus pada penyiapan dokumen pendukung, seperti proposal, rencana aksi, rencana tata bangunan dan lingkungan, hingga Detail Engineering Design. (*)
Pontianak Tampilkan Kerajinan dalam Pameran Kriyanusa di JCC Senayan
JAKARTA - Kota Pontianak turut hadir dalam pembukaan Pameran Kriyanusa 2024 yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, mulai Rabu (28/8/2024) hingga 1 September 2024. Pameran yang berlangsung selama lima hari ini mengangkat tema ‘Perajin Muda Lestarikan Warisan Budaya’ menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam melestarikan seni kerajinan tradisional Indonesia.
Pj Ketua Dekranasda Kota Pontianak Anita Ani Sofian ikut hadir dalam acara ini dan berkunjung ke stan Kota Pontianak yang menampilkan berbagai kerajinan khas daerah. Anita juga menekankan pentingnya pameran ini sebagai sarana untuk memperluas pasar dan mempromosikan produk lokal.
“Saya sangat gembira bisa hadir dan berhasil membuka stan. Produk-produk kerajinan dari Pontianak sangat luar biasa, menunjukkan kreativitas dan kualitas yang tinggi. Ke depan, saya optimis UMKM Pontianak akan terus maju. Kami akan terus mendorong inovasi dan berkomitmen untuk mendukung serta memfasilitasi agar UMKM Pontianak semakin unggul,” ungkapnya, usai acara.
Menurut Anita, acara ini bukan hanya untuk mendukung para UMKM dan pengrajin lokal, tetapi juga menjadi kesempatan emas untuk memamerkan produk-produk kebanggaan Kota Pontianak, seperti batik dan kerajinan lainnya.
“Semoga kegiatan ini membawa dampak positif yang besar bagi kemajuan UMKM di Pontianak,” tambahnya.
Ketua Umum Dekranasda RI Wury Ma’ruf Amin, menyampaikan, Pameran Kriyanusa mencerminkan komitmen untuk melestarikan tradisi dan warisan leluhur kepada generasi muda. Ia menyampaikan, Indonesia adalah negeri yang kaya akan budaya dan tradisi. Seni kerajinan dari berbagai daerah yang diwariskan dari generasi ke generasi ini tidak hanya menampilkan keindahan, tetapi juga identitas bangsa. Oleh karena itu, peran generasi muda sangat penting dalam menjaga dan melestarikan budaya.
“Semakin banyak pengrajin muda yang menggali dan memahami kerajinan tradisional, mereka akan menjadi pionir dalam membawa Indonesia ke panggung dunia dengan cara-cara yang inovatif,” ujarnya.
Yanti Isfandiary Airlangga Hartarto, Ketua Pelaksana Pameran Kriyanusa 2024 menambahkan tahun ini menjadi ikon bagi Kalimantan Timur dan diikuti oleh 444 stan pameran. Peserta pameran terdiri dari Dekranasda provinsi, kabupaten, kota, kementerian, lembaga, yayasan dan individu hingga pengrajin muda dari seluruh Indonesia.
“Kami memberikan 98 stan secara gratis kepada pengrajin muda sebagai bentuk dukungan dan apresiasi kepada mereka. Selain pameran, acara ini juga mencakup workshop, business matching, dan penampilan artis untuk menarik minat kaum muda dalam melestarikan warisan budaya Indonesia,” pungkas Yanti.
Dengan semangat kolaborasi yang terbina, diharapkan produk kerajinan Indonesia semakin unggul dan Pameran Kriyanusa menjadi ikon kerajinan yang selalu dinantikan masyarakat Indonesia. (kominfo)